Panduan Shalat Khusuk dan Tehnik Pengolahan Napas

Berikut ini kami sampaikan cara pengolahan napas, hati dan pikiran untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pelaksanaan sholat. Diharapkan dengan metoda ini akan didapatkan sholat yang khusuk, sehingga manfaat sholat bagi hati, tubuh dan fikiran dapat segera dirasakan selama sholat dan selesai mengerjakan sholat.

Siapkan hati dan fikiran untuk mengerjakan shalat, misalnya shalat Dhuhur, Asar atau Maghrib.

Ambil wuduk untuk bersuci dari hadas kecil

Persiapan segala sesuatu untuk melakukan shalat, ruangan, kondisi dan lain sebagainya.

Berdiri tegak menghadap kiblat, kedua kaki agak diregangkan. Rasakan bahwa anda saat ini sedang berhadapan dengan Allah penguasa tertinggi dialam semesta. Bersikaplah tawadhu dihadapan Dia yang berkuasa penuh diseluruh jagat raya.

Panduan Shalat Khusuk dan Tehnik Pengolahan Napas

Takbiratul ihram

Angkat kedua belah tangan hingga sejajar daun telinga sambil menarik napas perlahan lahan hingga udara memenuhi seluruh ruang paru paru, ucapkan kalimat takbir Allahu akbar. Kemudian turunkan kedua belah tangan keatas perut sambil menghembuskan nafas perlahan lahan hingga paru paru kosong sempurna. Letakan tangan kanan diatas tangan kiri pada bagian atas perut.

Do’a Iftitah

Selanjutnya tarik nafas kembali perlahan lahan hingga memenuhi ruang paru paru, hembuskan perlahan lahan sambil membaca do’a iftitah: 

” Allahu Akbar kabiraw walhamdulilaahi katsiiro, wa subhanallahi bukhrataw wa ashiila. 

Allah maha besar yang maha sempurna kebesarannya, segala punji bagi Allah sebanyak banyaknya, dan maha suci Allah sepanjang pagi dan petang hari 

” Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fathorosshamaawaati wal ardho haniifan muslimaw wama ana minal musyrikiin 

Sesungguhnya aku hadapkan hati dan fikiranku kepada yang menjadikan langit dan bumi, dengan lurus (ber-sungguh-sungguh) dan berserah diri , dan aku bukanlah termasuk orang yang mempersekutukanNya. 

Innas sholaati , wanusuki, wamahyaya, wama maati lillahi rabbil alamiin. Laa syariikalahuu wabidzaalika umirtu wa ana minal muslimin. 

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya bagi Allah Tuhan sekalian alam, Tiada sekutu bagiNya, dengan demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang berserah diri (muslim) .”

Jika nafas yang dihembuskan perlahan sudah habis sedang bacaan iftitah belum selesai, maka tarik nafas kembali hingga memenuhi ruang paru paru, kemudian hembuskan perlahan sambil melanjutkan bacaan yang belum selesai, demikian seterusnya. Konsentrasikan hati dan fikiran pada bacaan berikut maknanya. Mulut membaca do’a iftitah, fikiran menyebut terjemahannya, hati merasakan maksud kalimat yang dibaca. Rasakan kalimat yang dibaca dengan segenap perasaan dan penuh kekhusukan. Usahakan hembusan nafas berakhir bersamaan dengan selesainya bacaan do’a iftitah tersebut.

Bacaan Al-fatihah

Selanjutnya tarik nafas perlahan lahan hingga memenuhi ruang paru paru, hembuskan perlahan lahan sambil membaca surat Al Fatihah. Konsentrasikan fikiran dan perasaan pada bacaan Al Fatihah tersebut. Ucapkan dengan lisan, terjemahkan dengan fikiran, pahami dengan hati. Rasakan setiap ayat yang dibaca, ikuti dengan visualisasi. Baca surat Al Fatihah tersebut dengan tartil dan perlahan lahan.

Ketika membaca

Bismillahirrohmanirahiim……bayangkan dan rasakan betapa rasa kasih sayang Allah pada kita semua.

Ketika membaca Alhamdulillahir robbil alamiin…. bayangkan betapa maha terpujinya Allah penguasa alam semesta.

Ketika membaca Arohmaanirrohiim bayangkan sifat kasih sayang Allah yang meliputi alam semesta.

Ketika membaca Maalikiyau middin ….bayangkan keadaan dihari berbangkit kelak , ketika kita dikumpulkan dipadang mahsyar yang kering dan tandus. Dihari yang tiada tempat bernaung selain naunganNya, dihari yang tidak ada tempat berlindung selain lindunganNya . Dialah penguasa tunggal dihari itu.

Ketika membaca Iyya kana’budu wa iyyaka nasta’in tanamkan dalam hati bahwa hanya Dialah yang disembah, dan hanya kepadaNya tempat mohon pertolongan.

Ketika membaca Ihdinas shiroothol mustaqiim bayangkan jalan yang lurus, jalan yang penuh rahmat dan berkahNya. Ketika membaca Shirothol ladziina an amta alaihim, ghoiril maghdu bi alaihim , waldhoolliin ….bayangkan yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh orang yang telah mendapat rahmat dan nikmat dariNya , bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.

Usahakan hembusan nafas berakhir bersamaan dengan selesainya bacaan Alfatihah .

Bacaan surat dan ayat pilihan setelah Alfatihah

Setelah selesai membaca Alfatihah tarik nafas hingga memenuhi ruang paru paru. Hembuskan nafas perlahan lahan sambil membaca ayat atau surat pilihan. Untuk menambah kekhusuan ayat pilihan bisa disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang sedang mempengaruhi kita . Misalnya menghadapi musibah dan cobaan baca surat al Ankabut 1 s/d 5. Atau Al baqarah 153-157. Untuk membangkitkan semangat perjuangan dan mendapatkan karir yang lebih baik, baca surat Ali Imran 26-27, An Nur 55-56 atau Al Fath 1-4. Mengenang kehidupan akhirat baca surat al Waqi’ah, surat Al Zalzalah dan Al Qori’ah, Tentu saja ayat atau surat yang dibaca sudah dihafal berikut terjemahannya, demikian seterusnya. Usahakan hembusan nafas berakhir bersamaan dengan selesainya bacaan ayat pilihan tersebut.

Rukuk

Mulai rukuk dalam keadaan paru-paru kosong, sambil mengucapkan takbir ,setelah rukuk betul betul sempurna membentuk sudut 90 derajat tarik nafas perlahan lahan hingga memenuhi seluruh ruang paru paru. Dalam kondisi rukuk ini perut dan dada akan tertarik kebawah akibat gaya gravitasi, sedang pundak akan tertarik kedepan sehingga paru paru mendapat posisi yang sangat lapang. Keadaan ini menyebabkan udara bisa masuk kedalam paru paru dengan sebanyak banyaknya. Tahan napas sambil mengucapkan kalimat tasbih ” subhanarabbiyal adzim ….Maha suci Allah yang maha besar “. kemudian hembuskan napas dengan perlahan lahan sambil tetap mengucakan tasbih sebanyak banyaknya. Punggung dan pinggang membentuk sudut 90 derajat, tangan bertumpu pada lutut. Rasakan suasana relaks dan nyaman selama rukuk. Hembusan nafas berakhir bersamaan dengan selesainya bacaan tasbih. Lakukan rukuk ini selama mungkin, napas juga bisa ditarik dan hembuskan sampai beberapa kali ulang, rasakan suasana nyaman dan rileks dari rukuk ini.

I’tidal

Tarik nafas perlahan lahan sambil berdiri dan mengucapkan kalimat ” Samiallahu liman hamidah…. telah mendengar Allah akan orang yang memujiNya. “. Kedua belah tangan diangkat sampai sejajar telinga. Selanjutnya turunkan kedua belah tangan kesamping kiri dan kanan sambil menghembuskan nafas perlahan-lahan. Berdiri tegak dengan kedua belah tangan disamping kiri dan kanan, tarik nafas perlahan lahan hingga memenuhi paru paru, kemudian hembuskan dengan perlahan lahan sambil membaca : “Robbana lakal hamdu, milussamawaati wamil ul ardhi, wamil umaasyi’ta, min syai’in ba’du…..Wahai Tuhan kami segala puji bagiMu sepenuh langit dan bumi,dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sesudah itu”. Puji Allah dengan tulus dan ikhlas, rasakan suasana relaks dan nyaman. Hadapkan hati dan fikiran seluruhnya kepada Allah penguasa alam semesta dengan ikhlas dan tawadhu. Hembusan nafas berakhir bersamaan dengan berakhirnya bacaan do’a .

Sujud pertama

Tarik nafas perlahan lahan sambil turun untuk sujud dan mengucapkan kalimat takbir “Allahu akbar”. Selama sujud hembuskan nafas perlahan lahan sambil membaca kalimat tasbih : “Subhana rabbiyal a’la …..Mahasuci Allah yang maha tinggi “ sebanyak yang bisa dibaca. Hembusan nafas berakhir bersamaan dengan berakhirnya kalimat tasbih.Ucapkan kalimat tasbih dengan tulus dan ikhlas, rasakan suasana relaks dan pasrah kepadaNya. Hembusan nafas berakhir bersamaan dengan berakhirnya ucapan tasbih. Lama sujud tergantung kekuatan nafas dan jumlah kalimat tasbih yang dapat diucapkan. Rasakan suasana yang betul betul relaks dan pasrah padaNya.

Duduk Iftirash

Tarik nafas perlahan lahan sambil duduk dari sujud dengan mengucapkan kalimat takbir. Ketika duduk Iftirash hembuskan nafas perlahan lahan sambil membaca do’a :” Robighfirli, warhamni, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii, wa’afinii, wa’fu’annii …….Ya Tuhanku , ampuni aku, rahmati aku, tutupi nkeburukanku, angkat derajatku, beri aku rezeki, beri aku petunjuk, sehatkan aku, ma’afkan aku…”. Ucapkan do’a dengan sungguh sunguh, ikuti dengan ikhlas dan penuh perasaan, jangan tergesa gesa. Nikmati kata demi kata dalam do’a ini, rasakan getaran dari setiap kalimat do’a yang diucapkan. Ini adalah do’a untuk kehidupan yang ideal. Jika Allah mengabulkan do”a ini anda tidak akan menderita, gelisah, tertekan, bingung, dan hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Anda akan mendapat ampunan, rahmat dan berkah, ditutupi keburukannya, diangkat derajatnya, mendapat bimbingan dalam menghadapi berbagai masalah, diberi badan yang sehat, dan ma’af dari Allah. Usahakan hembusan nafas berakhir bersamaan dengan berakhirnya bacaan do’a.

Sujud kedua

Tarik nafas perlahan lahan sambil sujud dan mengucapkan kalimat takbir. Selama sujud hembuskan nafas perlahan lahan sambil membaca kalimat tasbih : Subhana rabbiyal a’la …..Maha suci Allah yang maha tinggi” . Lakukan seperti pada butir 11. Setelah selesai, lanjutkan ke rakaat kedua. Tarik nafas perlahan lahan sambil berdiri dan mengucapkan kalimat takbir untuk melanjutkan kerakaat kedua .

Duduk tahiyyat

Bangun dari sujud, tarik napas perlahan lahan hingga memenuhi seluruh ruang paru paru, sambil mengucapkan kalimat takbir. Kemudian hembuskan nafas dengan perlahan sambil membaca do’a : Attahiyatul mubaarokatus shalawatut thoyyibatulillaah.

Assalamu alaika ayyuhanabiyyu warahmatullahi wabarakatuhu, 

Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi Allah, salam rahmat dan berkahNya kupanjatkan padamu wahai nabi Muhammad…….. 

assalamualaina wa ala ibadillahisshoolihiin, Asyhaduallaa ilaaha illallahu wa assyhadu anna muhammadarrasuulullah, Allahhumma sholli ala muhammad wa ala aali muhammad….. 

Salam kesalamatan semoga tetap bagi kami seluruh hamba hambaNya yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah , dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan juga kepada keluarga nabi Muhammad “ . Pada tahiyyat akhir ditambahkan kalimat :

….kama sholaita ala ibrahiim wa ala aali ibraahim , wa barik ala aali Muhammad wa aala ali Muhammad, Kama barakta ala aali Ibrahiim wa ala aali Ibrahiim fil alamiina innaka hamiidun maajiid….

Sebagaiman Engkau pernah memberi rahmat kepada keluarga nabi Ibrahim, Berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah nmemberi keberkahan kepada Nabi Ibrahiim dan keluarga nya. Diseluruh alam semesta Engkaulah yang maha terpuji dan maha mulia ” . 

Jika hembusan nafas berakhir sebelum bacaan do’a selesai, tarik lagi nafas baru dan lanjutkan bacaan do’a sambil menghembuskan nafas perlahan lahan. Setelah selesai ucapkan salam sambil menoleh ke kanan dan kiri nsebagai penutup seluruh kegiatan shalat.

Seluruh kegiatan shalat dilakukan dengan tenang, relaks dan tidak tergesa gesa. Resapi dan hayati setiap kalimat yang diucapkan dalam shalat. Insya Allah anda akan merasakan kenikmatan langsung dalam shalat ini. Jika gerakan shalat dan pengaturan nafas anda lakukan dengan betul, anda akan merasakan hawa hangat dan nyaman diseluruh tubuh. Badan akan terasa lebih segar karena ada peningkatan kadar oxygen didalam darah anda. Jika anda mengidap tekanan darah tinggi, insya Allah shalat seperti ini akan menurunkan tekanan darah anda. Selama sholat napas dilakukan dengan lembut dan perlahan lahan, udara didalam paru paru sempurna penuh dan sempurna pula kosongnya. Jumlah Oxigen yang dihirup oleh paru paru dan CO2 yang dibuang, dalam sholat ini akan meningkat dibandingkan diluar sholat, sehingga badan akan terasa lebih segar dan nyaman.

READ MORE - Panduan Shalat Khusuk dan Tehnik Pengolahan Napas

Pahamilah Makna Hijrah Yang Sesungguhnya

Kita kembali bertemu dengan awal tahun baru hijrah, 1438 Hijrah. Tapi, pergantian tahun ini masih diiringi keprihatinan atas kondisi buruk umat Islam dalam segala aspek kehidupan.

Makna Hijrah

Menurut Al-Qâmûs al-Muhîth “hijrah” berasal dari kata hajara yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Fuqoha mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam. Definisi tersebut diambil dari fakta hijrah Nabi saw. dari Makkah (saat itu darul kufur) ke Madinah (kemudian jadi Darul Islam)

Masyarakat Pasca Hijrah

Pasca Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, dan membangun Negara Islamiyah, keadaan masyarakat berubah, jauh berbeda dengan masyarakat Jahiliah.

Pahamilah Makna Hijrah Yang Sesungguhnya

Pertama:

Akidah, akidah Islam mendominasi serta menjadi asas tunggal negara dan masyarakat, Syariah Islam diterapkan secara menyeluruh sebagai aturan.

Kedua:

Sosial, kehidupan sosial penuh dengan kedamaian dan ketenteraman. Segala bentuk kemaksiatan dan kriminalitas diberantas dengan hukum Islam yang tegas.

Ketiga:

Ekonomi, ekonomi berbasis riba dan kecurangan dihapus dan diberantas. Sedangkan, cara-cara meraih kekayaan yang syar’i dibuka lebar.

Keempat:

Politik, Islam dan kaum Muslim benar-benar diperhitungkan dan disegani oleh bangsa lain. Hidayah dan kekuasaan Islam kian meluas dengan dakwah dan jihad oleh negara.

Jahiliah Modern

Kondisi masyarakat saat ini sangat mirip dengan masyarakat Jahiliah sebelum hijrah, sebagian ulama menyebutnya sebagai “Jahiliah Modern”

Perubahan Menuju Khilafah

Awal tahun Tahun Baru Hijrah dan hari-hari ke depan sejatinya adalah masa tuk terus menggelorakan kebangkitan Islam menuju perubahan hakiki.

Perubahan itu tak mungkin tercapai kecuali dengan dua hal, yakni membangun kekuatan politik internasional yang menyatukan seluruh potensi kaum Muslim (Khilafah Islam), serta menerapkan Syariah Islam secara kâffah di dalamnya.
Sumber : Al Islam No.824, 27Dzulhijjah 1437H / 30 September 2016

READ MORE - Pahamilah Makna Hijrah Yang Sesungguhnya

Teka-teki MOS/OSPEK Terbaru

Bagi Anda yg Putra Putrinya mengikuti MOS bisa simpan tulisan berikut. Semoga bermanfaat.

Teka-teki MOS/OSPEK. Semoga bermanfaat!
1. air putih = susu
2. air bening = air putih
3. air anget = air jahe
4. susu ngantuk = susu bantal
5. oli = kopi
6. santan sapi murni = Susu cair putih
7. P3k = oky jell
8. minuman energi=extra joss
9. tinta merah:sirup merah
10. the hijau gembira bunga melati = joy tea
11. Penampung air ukuran 600ml+selangnya = Minuman Botol 600ml+ sedotan
12. susu penurut=susu yes
13. Bilangan ‘2,3,5’ = Aer minum cap Prima
14. Telletubbies mencari keringat = po Cari Sweat
15. Minuman Dwi panzer = Air Merk 2tang
16. Minuman Kanibal= Nutri sari (jeruk makan jeruk)
17. usus Merdeka = Susu Bendera
18. botol minum team = CLUB
19. minuman istri aladin = teh kotak
20. minuman spiritus = pepsi blue
Teka-teki MOS/OSPEK

21. susu macan=milkuat
22. Cahaya Matahari yang mencair=sunlight
23. minuman orang bangsawan = Royal jelly
24. Minuman yg di hormati = susu cap bendera
25. air lumpur = susu coklat
26. minuman ms.universe = uc 1000
27. minuman wilayahku = mizone
28. minuman 6t = vit
29. minuman bengkel = 2 tang
30. Minuman pahlawan = ultramilk
31. teh bulan=moontea
32. alat bengkel buah = frutang
33. minuman lembut = soft drinks
34. darah beku = cincau
35. air gunung = air aqua
36. minuman hutan = jungle jus
37. alat bengkel buah = frutang
38. sprite tak bersoda = air putih
39. Alat Terbang harry potter 2011/2012 = sapu
40. Pulpen biasa saja = standard
41. Pulpen cepat = faster
42. pulpen terbang = pilot
43. lengket rapet/jaring spiderman = lem atau lakban
44. kotak dekat atas = kotak pasta gigi close up
45. Tentara dalam barak = sekotak korek api
46. alat tulis mentega terbang = butterfly
47. buku merk ‘kakak laki-laki’= buku merk Aa
Makanan: 

• nasi jelek : nasi goreng
• nasi perang = nasi goreng
• nasi pocong = lontong
• sayur campur = sayur asem
• cacing goreng = mie goreng
• cacing rebus = mie rebus
• nasi belum mateng = beras
• coklat rihana = coklat payung
• Monyet2 gila = momogi
• Triplek isi Pasir : Creaker
• makanan bulan = keju/terang bulan
• kacang ilmuwan = kacang pilus/kacang sukro/kacang atom
• batu bata italy = tango
• biskuit 3 rahasia mungkin maksudnya oreo (diputar, dijilat & dicelupin)
• buah malam minggu = apel
• makanan pelaut = bayam
• bantal tepung terigu = roti bantal deh kayaknya
• spongebob coklat lembek = Brownies
• ikan harta karun = Ikan Mas
• bakal ayam = telur
• buah ketakutan = buah pear
• buah washington kayaknya apel merah
• Kentut Stela = qtela
• Bantal Sobek isi nya Tanah liat = roti sobek isi coklat
• Guling Sobek rasa darah = roti panjang isi stroberi
• sayur cina=cap cay
• buah mandarin=buah naga / jeruk mandarin
• ikan masuk angin=ikan kembung
• cokalt balok = chungky bar
• telur udik cap rt/rw = telor asin, biasa kan ada cap2nya gitu
• telephone hewan khas china = biskuit hello panda
• tongkat badai cokelat = twister choco stick
• buah teh macintosh = fruit tea apel
• panggangan orang belanda cokelat = klapertart
• pesisir melingkar keju = richeese / rings
• transjakarta bertenaga macan = biskuat
• cokelat lebih baik = better
• cokelat peralatan kucing = kit kat
• permen pria bertepuk = permen mentos
• buah harajuku = buah j-rock = buah jeruk
• tongkat keberuntungan : lucky stick
• minuman ringan membangkitkan ulama=NU Green Tea
• biskuit dengan texline”brr..brr..brr ” = oreo ungu
• biskuit super=biskuat
• bread essence = sari roti
• Biskuit lebih baik = Better
• Snack monyet petualang = Taro
• Wafer coklat merk oli = TOP
• Tongkat host happy song = coki-coki
• Buah dad say yes (bahasa inggris) = PAPAYA
• rumah iglo=nasi yang dibentuk kayak direstoran
• telor mata kedip=telor mata sapi
• sayur kuah 5 warna=sop (berkuah,isinya warna warni kayak wortel kentang dsb)
• Dewi Sri Berjemur = nasi Goreng
• Dodol Sapi = SOZZIS
• 1+lada=Selada
• T+Kekebalan = Timun
• Bulan Sabit = Pisang
• Binatang Dua Huruf Kriuk2 = Kerupuk Udang
• Buah Upacara = apel
• kerupuk union = Kerupuk Bawang
• Stempel AIR = Cap Cay
• pembalut anggrek (makanan) = antara roti orchid n metega merek orchid butter
• keripik cinta = minori (bentuk kripiknya hati )
• landak fruit = salak
• Coklat pintar ya smarties
• buah nyanyian kedamaian = pisang
• makanan pelancong = snack Tourist
• pisang1sisir=pisang ama sisir 1
• snack anak ayam = chiki
• Mahadewi hangus : nasi goreng atau nasi bakar
• Batu banda belanda= Oncom.
• permen penyelamat = permen karet
• buah ciuman matahari : sunkis
• sabit merah = semangka
• Pesawat akhir alphabet = chiki Jet-Z
• Nasi band = nasi bluben
• buah raja mesir = pear
• telur gunung berapi = telor balado
• sayur butek = sayur lodeh
• iPod hijau = apel hijau
• coklat marshanda= cha cha
• Chiki Bohong = Lays
• roti tukul = roti sobek
• sayur cap air = capcai
• chiki mal Jakarta = cheetos
• buah malem minggu = apel
• buah sedih = apel malang
• snack bohong = lays
• roti ngomong = breadtalk
• buah cium matahari = jeruk sunkist
• biskuit 3 cara = oreo
• permen sapi terbang = espresso
• ikan berdiri = teri jengky
• telor kotak = martabak
• ratu perak = silverqueen
• Spongebob goreng = roti goreng
• Kedelai semen = tempe
• Telor kerajaan = eggkingdom
• Ratu perak berjerawat = silverqueen mete
• Chiki kentut = Oops
• Susu puncak= cimory
• Coklat Rihana = coklat payung
• Kue Dewa = wafer superman
• permen bersama = fox
• kentang diinjek = perkedel
• kue gunung hijau = kue ape
• the jak dari medan = jeruk medan
• coklat puncak = top
• snek angin puyuh = twister
• toge kol 2003 = bakwan
• shiro rice = nasi putih
• teriakan ampe puas= tempe
• ubin berkacang= silverqueen
• akar hangat= jahe
• keramik hitam manis =coklat
• coklat puncak= top
• snack angin puyuh = twister
• permen zebra = blaster
• wafer cadel = wafle
• kacang berlumut= kacang ijo
• batu manis Nigeria= gula jawa
• coklat pahlawan : superman
• chiki aing beuki : chiki ku suka
• the jak dari medan : jeruk medan
• biscuit kenapa : biskuat

( Kalau kurang mohon di tambahkan di kotak komentar untuk membantu ibu - ibu serta adik - adik kita yang pusing gara - agara MOS Ini )

Teka Teki Sebelumnya :  Serba Serbi Teka Teki MOS Lengkap

READ MORE - Teka-teki MOS/OSPEK Terbaru

Inilah Pembatal - Pembatal Wudhu

Seseorang yang mengalami hal-hal yang membatalkan wudhu’ disebut mengalami hadats kecil. Pembatal-pembatal wudhu’ :

Keluarnya sesuatu dari 2 jalan (dubur dan kemaluan) seperti:

a) Kencing dan kotoran manusia

...أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ...

…atau ketika kalian baru keluar dari kamar kecil (untuk buang air)…(Q.S al-Maidah:6)

b) Mani.

Mengeluarkan mani secara memancar berarti hadats besar dan mengharuskan mandi janabah. Para Ulama’ menjelaskan bahwa segala hal yang mengharuskan mandi adalah membatalkan wudhu’

Inilah Pembatal - Pembatal Wudhu

c) Madzi

Nabi memerintahkan kepada Ali yang bertanya melalui al-Miqdad bin al-Aswad untuk berwudhu’, jika mengeluarkan madzi.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ

Dari Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu anhu – beliau berkata: Saya adalah seseorang yang sering mengeluarkan madzi. Kemudian aku perintahkan kepada al-Miqdad bin al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam. Ia pun bertanya kepada Nabi, dan Nabi bersabda: itu (menyebabkan harus) berwudhu’ (H.R al-Bukhari no 129).

d) Wadi, cairan putih yang mengiringi kencing,hukumnya sama dengan kencing. Membatalkan wudhu’ dan najis

e) Angin dari dubur

عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Dari Hammam bin Munabbih bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah diterima sholat seseorang yang berhadats hingga ia berwudhu’. Kemudian seseorang laki-laki dari Hadhramaut bertanya: Apa yang dimaksud dengan hadats itu wahai Abu Hurairah? Abu Hurairah menjawab: buang angin yang tidak berbunyi ataupun berbunyi (H.R al-Bukhari no 132)

f) Darah istihadhah pada wanita

Darah istihadhah adalah darah penyakit. Ciri fisik darahnya berbeda dengan ciri fisik pada darah haid. Hukumnya juga berbeda dengan hukum darah haid. Darah istihadhah mirip darah akibat luka sehingga berwarna merah segar. Wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, ia harus berwudhu’ pada setiap waktu sholat. Misalkan, masuk waktu Dzhuhur, maka ia harus berwudhu’, kemudian sholat Dzhuhur beserta sholat-sholat sunnah lain dengan wudhu’ itu. Jika masuk waktu Ashar ia harus berwudhu’ lagi. Masuk waktu Maghrib ia berwudhu’ lagi, demikian seterusnya. Sebagaimana perintah Nabi kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy yang mengalami istihadhah untuk berwudhu’ setiap masuk waktu sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

g) Hilangnya akal atau kesadaran seperti pingsan atau tidur yang nyenyak.

Seseorang yang tidur sangat nyenyak, atau yang hilang kesadaran seperti pingsan, wudhu’nya batal. Dalam hadits Shofwan bin Assal tentang menyapu dua sepatu, Nabi menyamakan tidur dengan kencing dan buang air besar sebagai hadats kecil:

وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

…akan tetapi dari buang air besar, kencing, dan tidur (H.R atTirmidzi, anNasaai, dishahihkan Ibnu Khuzaimah)

h) Memakan daging unta.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ

Dari Jabir bin Samuroh bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam: Apakah saya berwudhu jika makan daging kambing? Nabi bersabda: Jika engkau mau, silakan berwudhu’, jika mau silakan tidak berwudhu’. Ia bertanya lagi: Apakah saya berwudhu’ jika makan daging unta? Nabi bersabda: Ya. Berwudhu’lah jika makan daging unta (H.R Muslim no 539)

i) Riddah (murtad, keluar dari Islam)

Sebagian Ulama’ menganggap orang yang murtad menjadi batal wudhu’nya, sebagaimana batalnya seluruh amalnya (Q.S az-Zumar:65). 

Sehingga jika ada seseorang yang berwudhu’ kemudian ia melakukan ucapan atau perbuatan yang menyebabkan dirinya keluar dari Islam, maka wudhu’nya batal. Jika kemudian ia memperbaharui keislamannya dengan mengucapkan syahadat lagi dan ia ingin sholat, maka ia harus berwudhu’ lagi.

Segala hal yang membatalkan wudhu’ jika terjadi pada saat seseorang sedang sholat, maka otomatis sholatnya batal.

Jika Seseorang yang terkena najis pada tubuh atau pakaiannya, apakah secara otomatis wudhu’nya batal?

Jawab : Tidak batal, karena yang membatalkan wudhu’ adalah hadats, bukan najis. Najis tetap harus dibersihkan, namun tidak membatalkan wudhu’ (sebagaimana fatwa Syaikh Sholih alFauzan)

Jika seseorang yang sebelumnya telah berwudhu’ namun ia ragu apakah sudah batal atau belum. Apa yang harus dilakukan?

Jawab: Jika seseorang ragu apakah ia sudah batal atau belum, maka hendaknya mendasarkan atas sesuatu yang meyakinkan. Hal yang meyakinkan adalah ia sudah berwudhu’ sedangkan batalnya wudhu’ adalah berdasarkan sesuatu yang meragukan. Maka hendaknya ia memilih bahwa ia masih dalam kondisi suci (tidak batal).

Sebaliknya, jika ia yakin bahwa wudhu’nya batal, namun ragu apakah ia telah berwudhu’ atau belum, maka hendaknya ia memilih keyakinan bahwa ia belum berwudhu’. Karena kondisi ia berwudhu’ didasarkan atas sesuatu hal yang meragukan.

Kaidahnya adalah: hal yang meragukan tidak bisa mengalahkan sesuatu yang meyakinkan.

Landasan kaidah ini adalah hadits:

عَنْ سَعِيدٍ وَعَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ شُكِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ لَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Dari Said dan Abbad bin Tamim dari pamannya bahwa telah diadukan kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang seseorang yang terganggu pada pikirannya seakan-akan ia mengalami sesuatu (batal) dalam sholatnya. Nabi bersabda: Janganlah ia berpaling (menghentikan sholat) hingga ia mendengar suara atau mendapati bau (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz riwayat Muslim no 540)

Artinya, janganlah membatalkan sholat hingga mendapatkan sesuatu yang meyakinkan bahwa ia membatalkan sholat. Hal ini juga berlaku untuk masalah wudhu’. Tidaklah wudhu’ menjadi batal kecuali dengan sesuatu yang meyakinkan membatalkan wudhu’.

Apa saja perbuatan (amalan ibadah) yang menyebabkan seseorang diharuskan berwudhu’?

Jawab:

Amalan ibadah yang harus dilaksanakan dalam kondisi seseorang suci dari hadats (besar atau kecil) adalah:

Sholat

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Allah tidak menerima sholat seseorang jika berhadats sampai dia berwudhu’ (H.R alBukhari no 6440 dari Abu Hurairah)

Thowaf di Baitullah

الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ بِمَنْزِلَةِ الصَّلَاةِ، إِلَّا أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَلَّ فِيهِ الْمِنْطَقَ، فَمَنْ نَطَقَ فَلَا يَنْطِقْ إِلَّا بِخَيْرٍ

Thowaf di Baitullah (al-Ka’bah) adalah seperti sholat. Kecuali sesungguhnya Allah menghalalkan berbicara di dalamnya. Barangsiapa berbicara, janganlah berbicara kecuali kebaikan (H.R al-Hakim dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas, dinyatakan oleh al-Hakim bahwa hadits ini shahih dan sesuai syarat Muslim, disepakati adz-Dzahaby)

Memegang/ menyentuh mushaf al-Quran

لَا تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Janganlah menyentuh al-Quran kecuali engkau dalam keadaan suci (H.R al-Hakim, dishahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahaby, Ibnul Mulaqqin, al-Munawy). 

Larangan menyentuh mushaf al-Quran bagi orang yang berhadats (baik kecil ataupun besar) adalah pendapat dari Jumhur (mayoritas) Ulama’ dan didukung oleh Syaikh Bin Baz (Majmu’ Fataawa Bin Baaz (4/384-384)).

Apa saja perbuatan yang menyebabkan seseorang disunnahkan untuk berwudhu’?

Jawab:

Seseorang yang beribadah kepada Allah sebaiknya dalam kondisi suci dari hadats besar dan kecil. Walaupun dalam ibadah-ibadah tertentu, tidak dipersyaratkan harus suci hadats besar dan kecil, namun sebaiknya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah sebaiknya dalam kondisi tidak berhadats.

Contoh beberapa perbuatan yang sebaiknya dilakukan dalam keadaan tidak berhadats/ berwudhu sebelumnya:

Ikut memanggul jenazah.

مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Barangsiapa yang memandikan jenazah hendaknya mandi, dan barangsiapa yang memanggulnya, maka hendaknya berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Menyentuh kemaluan.

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaknya ia berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan Ahmad dari Busroh bintu Shofwan)

Perintah berwudhu’ ketika menyentuh kemaluan ini adalah sunnah, bukan kewajiban. Karena dalam hadits lain, Nabi ditanya apakah seseorang yang menyentuh kemaluannya harus berwudhu’? Nabi menjawab bahwa itu hanyalah bagian dari anggota tubuhnya (tidak wajib berwudhu’)

جَاءَ رَجُلٌ كَأَنَّهُ بَدَوِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَرَى فِي رَجُلٍ مَسَّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ وَهَلْ هُوَ إِلَّا مُضْغَةٌ مِنْكَ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْكَ

Datang seorang laki-laki sepertinya ia adalah dari pedalaman. Ia berkata: Wahai Rasulullah bagaimana pendapat anda tentang seorang laki-laki yang menyentuh kemaluannya dalam sholat? Nabi bersabda: Bukankah itu adalah bagian dari anggota tubuhmu? (H.R anNasaai dishahihkan Ibn Hibban)

Mengumandangkan adzan dan iqomah.

Sujud tilawah dan sujud syukur.

Ketika akan tidur

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ ، لاَ يَسْتَيْقِظُ سَاعَةً مِنْ لَيْلٍ ، إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ : اللهمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلاَنٍ ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Barangsiapa yang tidur (malam) dalam keadaan suci, satu Malaikat akan bermalam pada rambutnya. Tidaklah ia bangun pada waktu malam kecuali Malaikat itu berdoa: Ya Allah ampunilah Fulaan, karena ia tidur (malam) dalam keadaan suci (H.R Ibnu Hibban dari Ibnu Umar, dishahihkan al-Albany dalam as-Shahihah)

Segala bentuk ibadah sebaiknya dalam kondisi suci dari hadats jika mampu. Sikap tersebut bagian dari memulyakan syiar Allah, dan merupakan tanda ketakwaan.

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ 

Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu termasuk ketakwaan dalam hati (Q.S al-Hajj:32)

Apakah Semua Bentuk Tidur Membatalkan Wudhu’?

Jawab:

Tidak semua tidur membatalkan wudhu’. Tidur yang membatalkan wudhu’ adalah tidur nyenyak sehingga menghilangkan kesadaran penuh. Sehingga apabila mereka berhadats dalam kondisi tidur seperti itu mereka tidak bisa merasakan. Tidur semacam ini membatalkan wudhu’. 

Sedangkan tidur yang ringan tidaklah membatalkan wudhu’. Para Sahabat Nabi pernah tertidur saat menunggu datangnya Nabi untuk menjadi Imam dalam sholat Isya’, namun mereka kemudian langsung sholat tanpa berwudhu’ lagi.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ

Dari Anas –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menunggu sholat Isya’ akhir sampai terangguk-angguk kepala mereka kemudian mereka sholat dan tidak berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan ad-Daraquthny, dishahihkan oleh ad-Daraquthny)

Pendapat yang merinci jenis tidur tersebut adalah pendapat al-Imam Malik dan salah satu riwayat pendapat al-Imam Ahmad. Pendapat ini juga didukung oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, Syaikh Bin Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin.

Intinya, tidur yang menghilangkan kesadaran sehingga jika berhadats dalam tidur tidak terasa, menyebabkan batal wudhu’. Tidak peduli apakah posisi tidurnya berdiri, berbaring, atau duduk.

Tidur sendiri bukanlah sesuatu yang membatalkan wudhu’, namun tidur adalah kondisi yang tidak bisa dijaga seseorang mengalami hadats. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits:

الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

Mata adalah pengikat dubur, barangsiapa yang tidur hendaknya berwudhu’ (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dihasankan oleh anNawawy, al-Mundziri, Ibnus Sholah, al-Albany dan Ibn Baz)

Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?

Jawab:

Sekedar menyentuh, tidaklah membatalkan wudhu’. Al-Quran menggunakan kata ‘menyentuh’ yang artinya adalah bersetubuh.

...أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

…atau kalian ‘menyentuh’ para wanita, kemudian tidak mendapati air, hendaknya bertayammum dengan tanah yang baik…(Q.S anNisaa’:43)

Makna ‘menyentuh’ dalam ayat tersebut bukan sekedar menyentuh kulit satu sama lain. Tapi, maknanya adalah bersetubuh. Sebagaimana dijelaskan oleh Sahabat Nabi Ibnu Abbas (Tafsir Ibnu Katsir (2/314)).

Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah dalam keadaan berwudhu’ mencium istrinya kemudian langsung berangkat sholat tanpa harus berwudhu’ lagi.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju sholat tidak berwudhu’ (lagi)(H.R Abu Dawud)

Meski tidak membatalkan wudhu, namun sengaja menyentuh wanita yang bukan mahram tanpa ada keperluan yang darurat adalah berdosa.

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

Seandainya kepala salah seorang dari kalian diusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dibandingkan menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahram)(H.R atThobarony, dinyatakan oleh al-Haiytsamy bahwa para perawinya adalah perawi-perawi yang shahih, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Munawy).

Termasuk juga berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram adalah terlarang. Manusia yang paling suci hatinya, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tidak pernah berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, sekalipun untuk perbuatan yang sangat penting, yaitu baiat.

Umaimah bintu Ruqoiqoh radhiyallahu anha pernah menyatakan:

جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ نُبَايِعُهُ فَقَالَ لَنَا فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ

Saya mendatangi Nabi shollallahu alaihi wasallam bersama sekelompok wanita yang akan berbaiat pada beliau. Maka Nabi bersabda kepada kami: sesuai dengan kemampuan kalian. Aku tidaklah berjabat tangan dengan para wanita (H.R anNasaai, Ibnu Majah dishahihkan Ibn Hibban dan al-Albany)

Apa yang harus dilakukan seseorang yang berhadats terus menerus?

Jawab:

Jika seseorang berhadats terus menerus karena penyakit, seperti selalu mengeluarkan air kencing, atau selalu buang angin, maka hukumnya sama seperti wanita yang istihadhah. Hendaknya ia berwudhu’ setiap masuk waktu sholat, kemudian silakan sholat wajib dan sunnah yang mampu dikerjakan dengan wudhu’ itu, jangan pedulikan hadats yang menimpanya karena hal itu adalah penyakit. Jika masuk waktu sholat berikutnya, ia harus berwudhu’ lagi. 

Jika hadats itu adalah sesuatu hal yang najis, seperti kencing, hendaknya ia gunakan suatu penghalang semacam pembalut atau semisalnya sehingga tidak mengenai pakaiannya, dan hendaknya ia berusaha untuk mencari pengobatan yang tidak bertentangan dengan syar’i untuk berusaha menyembuhkan penyakitnya tersebut.

Demikian dijelaskan oleh para Ulama di antaranya Syaikh Ibn Utsaimin.

Apakah Seseorang yang Batal Wudhu’nya Harus Beristinja’?

Jawab:

Istinja’ hanya disyariatkan jika seseorang kencing (juga keluar madzi atau wadi) atau buang air besar. Adapun batal wudhu’ karena sebab yang lain tidak perlu beristinja’, sebagaimana difatwakan Syaikh Bin Baz (Fataawa Islaamiyyah (1/259)), demikian juga Fatwa al-Lajnah ad-Daimah.

Apakah Setiap Kali Akan Sholat Harus Berwudhu lagi Meski Wudhu Sebelumnya Belum Batal?

Jawab:

Tidak harus. Namun, jika seseorang meski belum batal wudhu’nya tetap memperbaharui wudhu, ia akan mendapatkan keutamaan-keutamaan wudhu yang banyak seperti yang akan dijelaskan pada bab berikutnya, insyaAllah. 

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dulunya selalu berwudhu setiap kali akan sholat meski masih belum batal wudhunya, namun kemudian setelah tahun Fathu Makkah, beliau melakukan beberapa sholat dengan satu wudhu (selama belum batal) untuk menunjukkan bolehnya hal itu dilakukan.

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ فَلَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ

Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam dulu berwudhu pada setiap sholat. Ketika tahun Fathu Makkah beliau (pernah) melakukan seluruh sholat (5 waktu) dengan satu wudhu (H.R atTirmidzi, anNasaai, dinyatakan hasan shahih oleh atTirmidzi dan dishahihkan al-Albany)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي عَامِرِ ابْنَ الْغَّسِيلِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أُمِرَ بِالْوُضُوءِ لِكُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا كَانَ أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ فَلَمَّا شَقَّ ذَلِكَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرَ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَوُضِعَ عَنْهُ الْوُضُوءُ إِلَّا مِنْ حَدَثٍ

Dari Abdullah bin Handzholah bin Abi Amir bin al-Ghosiil bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dulu diperintah untuk berwudhu pada setiap sholat baik dalam keadaan masih suci (belum batal wudhu) ataupun tidak suci. Ketika hal itu berat dirasakan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau (kemudian) diperintah untuk bersiwak setiap sholat dan dihapus kewajiban berwudhu kecuali bagi orang yang berhadats (yang akan sholat, pent)(H.R Ahmad, dishahihkan al-Hakim disepakati adz-Dzahaby dan dinyatakan sesuai syarat Shahih Muslim).

dikutip dari draft buku ‘Fiqh Bersuci dan Sholat Sesuai Tuntunan Nabi’ karya Abu Utsman Kharisman

READ MORE - Inilah Pembatal - Pembatal Wudhu

Teknik dan Cara Acian Dinding Tembok Rumah yang Baik dan Benar

Meski terkesan mudah dan sederhana, hasil pengacian pada dinding (acian dinding) tidaklah sebagus yang kita kira. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, Anda harus memperhatikan proses-nya langkah demi langkah dengan cermat.

Poin pertama acian dinding yang harus Anda perhatikan adalah plesteran pada dinding rumah yang akan Anda aci. Aplikasi acian sangat tergantung dari kualitas plesteran. Kualitas plesteran yang baik akan menghasilkan acian dinding tembok rumah yang baik pula. Plesteran harus rata dan halus sehingga akan menghemat bahan acian dinding. Jika pasir yang digunakan untuk plesteran mengandung lumpur terlalu tinggi, maka akan terjadi penyusutan sehingga plesteran akan retak yang berakibat retak dinding tembok rumah.

Teknik dan Cara Acian Dinding Tembok Rumah yang Baik dan Benar

Untuk itu sebelum dilakukan acian, plesteran harus kering dan tidak terjadi lagi penyusutan. Seharusnya acian dinding dilakukan pada plesteran berumur 2-3 minggu untuk dinding dalam sedangkan untuk dinding luar bisa lebih cepat (2 minggu). Apabila acian terlalu cepat dilakukan maka dapat menimbulkan retak pada acian. Jika dinding bata sangat basah pada saat dilakukan plesteran, maka air akan terperangkap sehingga diperlukan waktu lama untuk mengeluarkan air tersebut. Sebaliknya permukaan plesteran yang kering juga berpengaruh buruk terhadap hasil acian.

Sebelum melakukan acian, basahi dulu permukaan plesteran dengan air. Hal tersebut penting untuk menghindari agar acian atau white mortar tidak terlalu cepat kering. Semen pada white mortar sangat membutuhkan air untuk proses hidrasi. Jika acian terlalu cepat kering maka hasil acian akan lunak dan permukaan acian akan berdebu. Apabila waktu yang dibutuhkan dari selesai penghamparan acian sampai acian dapat dipoles sekitar 20-30 menit, maka kelembapan plesteran cukup. Tetapi apabila kurang dari 20 menit berarti plesteran terlalu kering, dan apabila lebih dari 30 menit berarti plesteran terlalu lembab.

Tebal acian juga mempengaruhi kulitas hasilnya. Tebal acian seharusnya adalah 1-3 mm. Jika kurang dari 1 mm akan mengering terlalu cepat. Apabila lapisan pertama kurang dari 1 mm maka sebelum lapis pertama tersebut kering harus dilakukan lapis berikutnya sampai minimal 1 mm. Apabila pada plesteran terdapat banyak lubang maka satu hari sebelum dilakukan acian, lubang–lubang tersebut harus ditutup. Apabila tebal acian lebih dari 3 mm, maka harus dilakukan dua lapis. Biarkan lapisan pertama kering selama beberapa hari baru dilakukan lapisan berikutnya.

READ MORE - Teknik dan Cara Acian Dinding Tembok Rumah yang Baik dan Benar

Makna dan Hakikat Cinta, Rindu dan Cemburu

Banyak orang berbicara tentang masalah ini tapi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Atau tidak menjelaskan batasan-batasan dan maknanya secara syar’i. Dan kapan seseorang itu keluar dari batasan-batasan tadi. Dan seakan-akan yang menghalangi untuk membahas masalah ini adalah salahnya pemahaman bahwa pembahasan masalah ini berkaitan dengan akhlaq yang rendah dan berkaitan dengan perzinahan, perkataan yang keji. Dan hal ini adalah salah. Tiga perkara ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan manusia yang memotivasi untuk menjaga dan mendorong kehormatan dan kemuliaannya. Aku memandang pembicaraan ini yang terpenting adalah batasannya, penyimpangannya, kebaikannya, dan kejelekannya. Tiga kalimat ini ada dalam setiap hati manusia, dan mereka memberi makna dari tiga hal ini sesuai dengan apa yang mereka maknai.

Cinta (Al-Hubb)

Cinta, Rindu dan Cemburu

Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota badan/dhahir. Pernikahan itu tidak akan bahagia dan berfaedah kecuali jika ada cinta dan kasih sayang diantara suami-isteri. Dan kuncinya kecintaan adalah pandangan. Oleh karena itu, Rasulullah Sawmenganjurkan pada orang yang meminang untuk melihat pada yang dipinang agar sampai pada kata sepakat dan cinta, seperti telah kami jelaskan dalam bab Kedua.

Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i dari Mughirah bin Su’bah r.a berkata : “Aku telah meminang seorang wanita”, lalu Rasulullah Sawbertanya kepadaku : “Apakah kamu telah melihatnya ?” Aku berkata : “Belum”, maka beliau bersabda : “Maka lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu pada akhirnya akan lebih menambah kecocokan dan kasih sayang antara kalian berdua”

Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang, lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut membicarakan masalah “cinta”, bahkan umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang haram, karena itu mereka merasa menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan mereka mengira diri mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka memandang, bila hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.

Kenyataannya, bahwa di sini banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang “cinta” dan apa-apa yang tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat, karena sesungguhnya dia memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat dari lelaki-lelaki rusak dan perempuan-perempuan rusak yang diantara mereka menegakkan hubungan yang tidak disyariatkan. Mereka saling duduk, bermalam, saling bercanda, saling menari, dan minum-minum, bahkan sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka mengira bahwa ‘cinta’ tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal sebenarnya tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.

Sesungguhnya kecenderungan seorang lelaki pada wanita dan kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan syahwat dari syahwat-syahwat yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam masalah cinta. Artinya Allah menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang menyebabkan hati laki-laki itu cenderung pada wanita, sebagaimana firman Allah Swt :

["Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak,..."] Ali-’Imran : 14

Allah lah yang menghiasi bagi manusia untuk cinta pada syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta yang besar, dan sungguh telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi Saw bersabda :

["Diberi rasa cinta padaku dari dunia kalian : wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam sholat"] HR Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi.

Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki pada wanita atau sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada keturunan dan tidak ada keluarga. Namun, Allah Swt tidaklah menjadikan lelaki cinta pada wanita atau sebaliknya supaya menumbuhkan diantara keduanya hubungan yang diharamkan, tetapi untuk menegakkan hukum-hukum yang disyari’atkan dalam bersuami isteri, sebagaimana tercantum dalam hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas r.a berkata : telah bersabda Rasulullah Saw:

["Tidak terlihat dua orang yang saling mencintai, seperti pernikahan"]
Dan agar orang-orang Islam menjauhi jalan-jalan yang rusak atau keji, maka Allah telah menyuruh yang pertama kali agar menundukan pandangan, karena ‘pandangan’ itu kuncinya hati, dan Allah telah haramkan semua sebab-sebab yang mengantarkan pada fitnah, dan kekejian, seperti berduaan dengan orang yang bukan mahramnya, bersenggolan, bersalaman, berciuman antara lelaki dan wanita, karena perkara ini dapat menyebabkan condongnya hati. Maka bila hati telah condong, dia akan sulit sekali menahan jiwa setelah itu, kecuali yang dirahmati Allah Swt.

Bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia dalam kecenderungan hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan sebab jika kecenderungan itu diikuti dengan amalan-amalan yang diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan wanita saling pandang memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar, lalu cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal itu berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai hatinya. Akan tetapi, keduanya diazab karena apa yang dia lakukan. Dan karena keduanya melakukan sebab-sebab yang menyampaikan pada ‘cinta’, seperti perkara yang telah kami sebutkan. Dan keduanya akan dimintai tajawab, dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang dia perbuat setelah itu.

Adapun cinta yang murni yang dijaga kehormatannya, maka tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan olsebagian ulama seperti Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai seseorang lalu menjaga kehormatan dirinya dan dia menyembunyikan cintanya maka dia diberi pahala, sebagaimana akan dijelaskan dalam ucapan kami dalam bab ‘Rindu’. Dan dalam keadaan yang mutlak, sesungguhnya yang paling selamat yaitu menjauhi semua sebab-sebab yang menjerumuskan hati dalam persekutuan cinta, dan mengantarkan pada bahaya-bahaya yang banyak, namun …..sangat sedikit mereka yang selamat.

Rindu (Al-’Isyq)

Rindu itu ialah cinta yang berlebihan, dan ada rindu yang disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan. Maka rindu tersebut bukanlah hal yang tercela dan keji secara mutlak. Tetapi bisa jadi orang yang rindu itu, rindunya disertai dengan menjaga diri dan kesucian, dan kadang-kadang ada rindu itu disertai kerendahan dan kehinaan.

Sebagaimana telah disebutkan, dalam ucapan kami tentang cinta maka rindu juga seperti itu, termasuk amalan hati, yang orang tidak mampu menguasainya. Tapi manusia akan dihisab atas sebab-sebab yang diharamkan dan atas hasil-hasilnya yang haram. Adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri padanya dan menyembunyikannya dari orang-orang, maka padanya pahala, bahkan Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi’ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa termasuk dari golongan syuhada di akhirat ialah orang-orang yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan disembunyikan dari orang-orang meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang haram sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.

Makna ucapan Suyuthi adalah orang-orang yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan, dengan tetap menjaga kehormatan dan menyembunyikan kerinduannya sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai mati karena kerinduan tersebut maka dia mendapatkan pahala syahid di akhirat. Hal ini tidak aneh jika fahami kesabaran orang ini dalam kerinduan bukan dalam kefajiran yang mengikuti syahwat dan dia bukan orang yang rendah yang melecehkan kehormatan manusia bahkan dia adalah seorang yang sabar, menjaga diri meskipun dalam hatinya ada kekuatan dan ada keterkaitan dengan yang dirindui, dia tahan kekerasan jiwanya, dia ikat anggota badannya sebab ini di bawah kekuasaannya. Adapun hatinya dia tidak bisa menguasai maka dia bersabar atasnya dengan sikap afaf (menjaga diri) dan menyembunyikan kerinduannya sehingga dengan itu dia mendapat pahala.

Cemburu (Al-Ghairah)

Cemburu ialah kebencian seseorang untuk disamai dengan orang lain dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari buah cinta. Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai. Dan cemburu itu termasuk sifat yang baik dan bagian yang mulia, baik pada laki-laki atau wanita.

Ketika seorang wanita cemburu maka dia akan sangat marah ketika suaminya berniat kawin dan ini fitrah padanya. Sebab perempuan tidak akan menerima madunya karena kecemburuannya pada suami, dia senang bila diutamakan, sebab dia mencintai suaminya. Jika dia tidak mencintai suaminya, dia tidak akan peduli (lihat pada bab I). Kita tekankan lagi disini bahwa seorang wanita akan menolak madunya, tetapi tidak boleh menolak hukum syar’i tentang bolehnya poligami. Penolakan wanita terhadap madunya karena gejolak kecemburuan, adapun penolakan dan pengingkaran terhadap hukum syar’i tidak akan terjadi kecuali karena kelalaian dan kesesatan. Adapun wanita yang shalihah, dia akan menerima hukum-hukum syariat dengan tanpa ragu-ragu, dan dia yakin bahwa padanya ada semua kebaikan dan hikmah. Dia tetap memiliki kecemburuan terhadap suaminya serta ketidaksenangan terhadap madunya.

Kami katakan kepada wanita-wanita muslimah khususnya, bahwa ada bidadari yang jelita matanya yang Allah Swt jadikan mereka untuk orang mukmin di sorga. Maka wanita muslimat tidak boleh mengingkari adanya ‘bidadari’ ini untuk orang mukmin atau mengingkari hal-hal tersebut, karena dorongan cemburu. Maka kami katakan padanya :

Dia tidak tahu apakah dia akan berada bersama suaminya di surga kelak atau tidak.

Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di dunia.

Bahwasanya Allah Swt telah mengkhususkan juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski kita tidak mengetahui secara rinci.

Surga merupakan tempat yang kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati manusia, seperti firman Allah Swt

["Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan"] As-Sajdah : 17

Oleh karena itu, tak seorang pun mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari penyejuk mata sebagai balasan pada apa-apa yang mereka lakukan. Dan di sorga diperoleh kenikmatan-kenikmatan bagi mukmin dan mukminat dari apa-apa yang mereka inginkan, dan juga didapatkan hidangan-hidangan, dan akan menjadi saling ridho di antara keduanya sepenuhnya. Maka wajib bagi keduanya (suami-isteri) di dunia ini untuk beramal sholeh agar memperoleh kebahagiaan di sorga dengan penuh kenikmatan dan rahmat Allah Swt yang sangat mulia lagi pemberi rahmat.

Adapun kecemburuan seorang laki-laki pada keluarganya dan kehormatannya, maka hal tersebut ‘dituntut dan wajib’ baginya karena termasuk kewajiban seorang laki-laki untuk cemburu pada kehormatannya dan kemuliaannya. Dan dengan adanya kecemburuan ini, akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya. Adapun contoh kecemburuan dia pada isteri dan anak-anaknya, yaitu dengan cara tidak rela kalau mereka telanjang dan membuka tabir di depan laki-laki yang bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki itu saudaranya atau anak-anaknya.

Anehnya bahwa kecemburuan seperti ini, di jaman kita sekarang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain. Akan tetapi akan hilang keheranan itu ketika kita sebutkan bahwa manusia di jaman kita sekarang ini telah hidup dengan adat barat yang jelek. Dan maklum bahwa masyarakat barat umumnya tidak mengenal makna aib, kehormatan dan tidak kenal kemuliaan, karena serba boleh (permisivisme), mengumbar hawa nafsu kebebasan saja. Maka orang-orang yang mengagumi pada akhlaq-akhlaq barat ini tidak mau memperhatikan pada akhlaq Islam yang dibangun atas dasar penjagaan kehormatan, kemuliaan dan keutamaan.

Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-sifat yang jelek, yaitu ‘Dayyuuts’. Sungguh ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir r.a, serta dari Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dari Abdullah bin Amr r.a, dari Nabi Saw bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr, pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan keharaman.

READ MORE - Makna dan Hakikat Cinta, Rindu dan Cemburu

Saya rasa semua kita sudah mengetahui bagaimana sederhananya rumah Rasulullah saw

Saudaraku. Apakah saudara seorang kontraktor? Jika benar, ketika saudara ingin membangun atau mencicil rumah, tolong berpikirlah dalam-dalam terlebih dulu. Seperti, "Rumah ini untuk siapa?" Karena kita sering mendesain atau mengambil cicilan rumah untuk dipuji orang lain. Padahal kita mati-matian membayar cicilannya.

Walau pun ada orang memuji rumah kita, yang mungkin katanya bagus dan antik, tapi tetap saja dia tidak menyumbang untuk cicilannya. Seperti kalau kita membeli motor bagus, lalu ada yang bilang, "Wah motor kamu keren." Sekadar begitu, dan dia tidak mau membelikan bensinnya. Kecuali kalau setiap orang yang memuji rumah kita juga memberi uang sejuta, tidak apa-apa bangun rumah sebagus mungkin.

Jadi, kalau mau membikin atau mengambil cicilan rumah, jangan memikirkan penilaian orang. Bangunlah rumah sesuai kemampuan dan keperluan. Misalnya, mengapa kita membuat rumah tipe kerajaan, padahal modalnya terbatas? Nanti yang siap hanya pilarnya saja, dan, menunggu dana terkumpul setahun lagi, kita tidur bersama anak-anak di dalam tenda. Malah jadi aneh. Atau, mungkin secara modal kita mampu, lalu membangun rumah dengan 15 kamar tidur. Padahal kita keluarga kecil, dan yang dipakai hanya tiga kamar. Sisanya dibiarkan kosong bertahun-tahun menjadi sarang kelelawar.

Saya rasa semua kita sudah mengetahui bagaimana sederhananya rumah Rasulullah saw

Bukan harus jelek rumahnya, tapi proporsional. Sesuai kemampuan dan keperluan. Saya rasa semua kita sudah mengetahui bagaimana sederhananya rumah Rasulullah saw. Mungkin kita tidak sanggup sesederhana beliau. Tapi, setidaknya jangan memaksakan diri jika tidak punya modal.

Apalagi kalau tinggal di rumah bagus, kita cenderung untuk riya. Seperti saat ada yang bertanya, "Saudara tinggal di mana?" Kita lebih suka menjawab, "Cipaganti." Sehingga yang dibayangkan orang adalah Jalan Cipaganti. Padahal tempat tinggal kita ada di Gang Mak Uneh. Mengapa kita menyebut Cipaganti? Dulu mungkin. Atau, "Tinggal di mana di Jakarta?" Dijawab, "Pondok Indah." Tapi karena dari penampilan kita sudah membuat orang tidak yakin, kita bisa ditanya lagi, "Saudara yakin di Pondok Indah ada gang-gang sempitnya?"

Saudaraku. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, penduduk di Kufah dan Basrah pada awalnya tinggal di tenda-tenda. Dengan pertimbangan, untuk memudahkan jika terjadi peperangan. Kemudian mereka meminta izin kepada Umar untuk membangun tempat tinggal dengan bahan rotan. Umar pun mengizinkan. Tapi setelah itu terjadi kebakaran di kedua kota tersebut. Sehingga mereka kembali meminta izin kepada khalifah Umar untuk membangun rumah dari batu bata.

Umar pun kembali mengizinkan: "Silakan lakukan. Tetapi jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian membangun lebih dari tiga kamar, dan jangan berlebih-lebihan dalam bangunan." Lalu, ada yang bertanya tentang ukurannya. Umar menjawab: "Tidak mendekatkan kepada pemborosan dan tidak mengeluarkan dari hidup bersahaja." Pesan yang serupa beliau kirimkan kepada Saad bin Abi Waqqash di Kufah, dan Uthbah bin Ghazwan di Basrah.

Nah, dari sana kita bisa melihat bagaimana kehati-hatian kaum muslimin generasi awal dalam membangun rumah. Mereka membangunnya sesuai keperluan dan kemampuan, menjauhi pemborosan dan berlebih-lebihan, dan terhindar dari perlombaan bermewah-mewahan. Bagi mereka, yang penting rumahnya bisa untuk istirahat, melindungi dari panas terik matahari, udara dingin dan hujan.

Berbeda jauh sekali dengan kita sekarang. Kita bisa sibuk membangun rumah bertahun-tahun sampai lupa ke pengajian. Sibuk membeli asesoris dan perabotan, sehingga tersiksa cicilan serta tidak lagi membayar zakat dan bersedekah. Padahal semua itu hanya untuk pamer dan berharap dipuji makhluk. "Alhamdulillah, ini rumah saya." Menyebut "alhamdulillah" tidak ingat kepada Allah. Tapi mengingat-ingat bagian rumah yang akan diceritakan atau dipamerkan terlebih dulu.

Jangan, saudaraku! Bangunlah rumah sesuai kemampuan dan keperluan. Jangan sampai hanya demi rumah, hidup kita di dunia dan akhirat tersiksa. Mengapa kita berharap pujian makhluk? Jika Allah berkehendak, tinggal diberi gempa 7 SR, langsung rata rumah kita. "Tenang Aa, rumah saya bagus dan antigempa." Kalau begitu dinaikkan 12 SR. Rumah saudara mungkin tetap bagus, tapi tertimbun di dalam tanah.

Bangun yang proporsional saja. Mulailah menghindarkan dunia ini supaya tidak mendominasi hati. Jangan bangga maupun minder dengan rumah. Baik istana atau pun gubuk, dan semua rumah yang ada di dunia ini milik Allah SWT. Kita hanya bergiliran menumpang dan mengaku-aku saja memilikinya.[mozaik.inilah.com]

READ MORE - Saya rasa semua kita sudah mengetahui bagaimana sederhananya rumah Rasulullah saw

Jangan Biarkan Anak Keluar Rumah Ketika Maghrib

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika malam telah turun – atau ketika sore menjelang malam – maka tahanlah anak-anak kamu (jangan sampai keluar rumah) karena setan-setan tengah menyebar di saat itu. Setelah berlangsung beberapa saat lamanya, biarkan mereka bermain. Tutuplah semua pintu, bacalah nama Allah, karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup. Tutupi tempat minum kalian dengan menyebut nama Allah, sekalipun hanya dengan menaruh sesuatu di atasnya.”

Dalam redaksi lain,

“Jika kalian tidak menemukan tutup selain menaruh sebatang kayu di atas wadah kalian, maka lakukanlah dengan menyebut nama Allah.”

Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3280, Muslim no. 2012, Abu Dawud no. 3733 dengan sedikit perbedaan serta dari Tirmidzi no. 1812 dan Ibnu Majah no. 3410 tanpa ada syahid (penguat) dalam riwayat keduanya.



Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dalam hal memasang (meletakkan) sebatang kayu di atas perabotan dapur terdapat hikmah, yaitu jangan sampai lupa menutupinya sekalipun hanya dengan sebatang kayu. Dalam hadits ini juga terdapat faedah bahwa barangkali akan ada serangga yang jatuh ke atas makanan, ia bisa melewati kayu tersebut sehingga tidak jatuh ke makanan.” (Zad Al-Ma’ad 4/233).

Dalam riwayat Muslim dari shahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,

“Saya mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tutupilah wadah, selimuti tempat minum, karena dalam masa setahun ada satu malam yang turun di dalamnya satu wabah yang tidak melewati satu wadah yang tidak ditutup, atau tempat minum yang tidak ditutup, melainkan wabah tersebut akan masuk ke dalamnya.” (HR Muslim no. 2014).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ini termasuk perkara yang tidak bisa disentuh ilmu dan pengetahuan para dokter, masalah ini telah diketahui oleh mereka yang mengetahui dari kalangan orang yang berakal melalui pengalaman mereka.” (Zad Al-Ma’ad 4/232).

Dalam redaksi Muslim yang lain disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan kalian biarkan harta kalian berserakan, juga anak-anak kecil kalian jika matahari terbenam hingga gelapnya waktu Isya’, karena setan tengah bertebaran ketika matahari terbenam hingga gelapnya waktu isya’ “. (HR Muslim no. 2013).

Dalam penjelasan hadits Muslim (syarh Muslim 7/205), Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

“Hadits ini berisi banyak manfaat, berupa kebaikan dan adab (etika) yang menggabungkan antara maslahat dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjalani adab ini yang merupakan sebab keselamatan dari gangguan setan. Allah Ta’ala menjadikan hal ini sebagai penyebab keselamatan dari setan sehingga ia tidak mampu membuka tutup wadah atau mengurai tutup tempat minum, tidak pula mampu membuka pintu, dan mengganggu anak-anak atau lainnya.”

Imam Ibnu Hubairah rahimahullah mengatakan,

“Jin itu terbagi menjadi jin mukmin yang aman siapa saja yang berjumpa dengannya. Ada pula jin yang ketika berjumpa dengannya, tidak bisa terhindar dari gangguannya, tidak bisa merasa aman karena mereka kafir, serta jika mengganggu anak-anak karena anak-anak belum sempurna akalnya sehingga terpengaruh oleh imajinasi yang buruk. Anak-anak juga belum (belum bisa membaca) nama-nama Allah yang bisa membentengi dari gangguan setan, maka orang tua diperintahkan untuk menahan dan mengumpulkan anak-anak mereka.” (Al-Ifshah 8/253).

Kesimpulan dari hadits-hadits tersebut di atas:

  1. Menahan anak-anak agar tidak keluar rumah ketika terbenamnya matahari. 
  2. Menutup semua pintu dengan membaca basmalah. 
  3. Menutup tempat minum dengan membaca basmalah. 
  4. Menutupi (menyelimuti) wadah dan tempat makanan, dengan berdzikir (membaca basmalah), sekalipun tidak menemukan tutup selain batang kayu. 
Hal ini dilakukan pada awal permulaan malam menurut hadits-hadits yang dipaparkan sebelumnya. Wallahu A’lam.
Sumber voa-islam.com

READ MORE - Jangan Biarkan Anak Keluar Rumah Ketika Maghrib

Memahami Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Sujud merupakan salah satu rukun dalam shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Namun sujud juga tidak baik jika asal dikerjakan. Karena dalam sujud itu terdapat nilai-nilai kerohanian yang sangat dalam. Dengan meletakkan kepala di bawah dan menempelkan kening dan hidung di atas tanah, dua lutut, dan telapak tangan serta ujung-ujung jarinya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah saw:


اُمِرْتُ اَنْ اَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ اَعْظُمٍ: عَلَى الْجَبْهَةِ، وَاَشَارَبِيَدِهِ عَلَى اَنْفِهِ، والْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَاَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

Aku disuruh bersujud pada tujuh tulang pada kening seraya menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan ujung-ujung kaku.


Keterangan tentang posisi fisik di atas hendaknya tidak haya dilaksanakan tetapi juga diresapi. Karena sesungguhnya rambu-rambu itu mengandung hikmah yang bila dilaksanakan dapat membantu seorang lebih khusyu’ dan ihlash dalam shalat. Jika demikian, wajar kalau Rasulullah saw kana menemani sahabatnya yang banyak bersujud

عن ربيعة بن كعب الأسلمى رضى الله عنه قال كنت أبيت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتيه بوضوئه وحاجته فقال سلنى فقلت أسألك مرافقتك في الجنة. فقال : أوغير ذلك . قلت : هو ذاك . فقال أوغير ذلك . قلت : هو ذاك قال فأعني على نفسك بكثرة السجود

Dari Rabiah bin Ka’ab r.a, ia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah SAW kemudian aku membawa kepadanya air untuk beliau berwudhu dan buang hajat, lalu beliau bersabda: “Mintalah dariku”, aku berkata: “Aku meminta menjadi pendampingmu di syurga”, ia bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Aku hanya meminta menjadi pendampingmu di syurga”, Rasulullah SAW bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Itu permintaanku”, ia bersabda: “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu dengan banyak engkau bersujud (shalat)”. HR. Muslim 1

Secara fisik kondisi sujud memang menunjukkan sebuah penghambaan total. Bagaimana posisi itu begitu sangat rendahnya. Namun dibalik kepasrahan dan kerendahan itu sesungguhnya Allah swt akan meninggikan derajatnya. Sebagaimana diterangkan

عن ثوبات رضى الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول عليك بكثرة السجود لله فإنك لا تسجد لله سجدة إلا رفعك الله بها درجة وحط عنك بها خطيئة قال معدان ثم لقيت أبا الدرداء فسألته فقال لي مثل ما قال لي ثوبان

Dari Tsauban r.a ia berkata: “Aku mendegar Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah bersujud sesungguhnya engkau tidak melakukan satu sujudpun karena Allah, melainkan Allah mengangkatkan engkau dengan sujud tersebut satu derajat dan Allah menghapuskan darimu satu kesalahan”. HR. Muslim 

Dan yang paling hakiki dari sujud adalah merasakan kedekatan antara seorang hamba dan tuhannya. Pada saat sujud itu bisa dengan mudah seorang hamba menitikkan air mata, atau merasa intim dengan Allah swt. Begitu yang diajarkan Rasulullah saw dalam haditsnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ“أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ. فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ”

Hadits riwayat Abi Hurairah Radhiyallahu’anhu, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Paling dekatnya seorang hamba dengan tuhannya ialah ketika dia bersujud. Maka perbanyaklah berdo’a”

READ MORE - Memahami Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Misteri Teror Hantu Bermata Satu di Gabus Bekasi

Percaya atau tidak, dua kampung di Gabus, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi mendadak ramai sebulan belakangan lantaran adanya kabar penampakan sesosok makhluk supranatural (gaib) dan sudah mengganggu ketenangan masyarakat di sana.

Diungkap warga setempat, Hasan, makhluk gaib itu dikenal sebagai hantu bermata satu. Ia berbadan besar dan memiliki gigi bertaring. Hantu inipun, kerap menyasar korban secara acak.

“Kejadianya sejak lebaran haji ini bang, ada dua desa yang kini mencekam. Kampung Srijaya dan Kampung Srimukti, di Gabus bang. Dua desa ini bertentangga. Namanya setan mata satu. Di jidatnya cuma ada satu mata, dan asal ketemu orang dia baru bercaling,” kata Hasan, yang juga petugas lingkungan setempat.

Misteri Teror Hantu Bermata Satu di Gabus Bekasi
Misteri Teror Hantu Bermata Satu di Gabus Bekasi

Dia menambahkan, jika hantu ini jelas telah membuat resah warga. Pasalnya, setiap menampakkan diri, ada saja warganya yang tewas mendadak tanpa sebab.

“Sejak bulan haji ini, sudah ada lima orang yang mati bang. Mati gak sakit, gak ada apa apa. Awalnya, kita kira angin duduk. Tapi kok lima limanya, ngeluarin busa di mulut, kaya ayan. Korban nya pun, gak cowok gak cewek bang,” jelasnya.

Warga pun menduga, jika hantu tersebut berasal dari ulah pesugihan.

“Kita sebenernya gak mau nuduh bang, karena gak ada bukti. Tapi kata orang pinter disini, ini hantu dapat pitua untuk cari tumbal bang. Nah, gak tau dah, motifnya apa. Sebab, dia nongol ada aja orang tewas, kalau uang atau harta benda mah gak ada yang hilang,” ucapnya.

Atas hal tersebut, sejumlah warga di dua kampung tersebut kini terus melakukan patroli lingkungan di malam hari. Sejumlah alat seperti, bambu kuning dan daun kelor pun disiapkan untuk berjaga jaga mengusir makhluk gaib tersebut.

“Coba aja abang dateng di gang Nila, dari jam 7 sampe subuh kita ngeronda. Soalnya ini setan, nge-geret orang mulu. Pernah warga sini ditarik ke sawah, sadar-sadar badanya udah biru-biru. Malah ada perempuan namanya Iin, gak sakit dan baru kelar shalat, tiba tiba meninggal bang. Kita yang jaga malam ini resah bang,” pungkasnya. (br2)
Sumber : beritabekasi.co.id

READ MORE - Misteri Teror Hantu Bermata Satu di Gabus Bekasi

Allah SWT Suka dengan Hal Ganjil. Ini Alasannya


Ganjil adalah bilangan yang jika dibagi dua maka bersisa 1. Dan itu adalah hal yang Allah dan Rasulnya suka, alasan lain karena Allah SWT itu hanya 1 atau Mahaesa, tunggal.

Dalam sebuah hadist Rasullullah SAW bersabda: 

إنّ الله وتر يحبّ الوتر “

Sesungguhnya Allah SWT itu witir dan Dia mencintai yang witir (ganjil)’,” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “witir maknanya ganjil (lawan genap).

Allah itu witir, artinya Allah itu esa tidak ada sekutu yang serupa bagi-Nya. Sedangkan makna “Allah mencintai witir adalah bahwa Allah mengutamakan bilangan ganjil dalam beberapa amalan dan ketaatan.

Oleh karenanya, Allah menjadikan sholat itu 5 waktu, bersuci 3 kali, thowaf 7 kali, sa’i 7 kali, melontar jumroh 7 kali, hari tasyriq ada 3 hari, beristinjak(cebok) 3 kali, kain kafan disyariatkan 3 lapis, zakat pertanian (nishobnya) 5 wasaq, zakat perak 5 uqiyah, demikian juga nishob zakat unta dan lainnya.


Demikian juga Allah jadikan beberapa makhluk-Nya yang besar berjumlah witir, seperti langit, bumi, lautan, hari-hari (dalam sepekan) dan lainnya. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa makna witir disini adalah tertuju kepada sifat hamba-Nya yang menyembah Allah dengan mengesakan dan mengikhlaskan kepada Allah saja. Wallahu a’lam.” (syarh shohih muslim: 9/39).

Dikatakan dalam hadist yang lain : Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda, (Dan Allah memiliki sembilan pulu sembilan nama seratus kurang satu, barang siapa menghitungnya (menghafal dan mentafakurinya) akan masuk surga. Dia itu witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil)’,” (HR Bukhari dan Muslim).

Aisyah ra. mengatakan : “Rasulullah SAW ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang artinya: (Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon)’,“ (HR Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya Allah itu witir (esa/ganjil) dan suka pada yang ganjil’,” (HR Abu Daud dan Turmudzi).

Dari keterangan di atas kita simpulkan: “witir yang dimaksud bukanlah berarti mencakup segala sesuatu secara umum, melainkan maksudnya adalah Allahlah yang menghukumi beberapa hukum syari’at dan ciptaanNya berjumlah witir, seperti sholat disyariatkan witir, langit berjumlah witir, dan sebagainya.

Allah yang menghukumi demikian bukan berarti segala sesuati disyariatkan supaya menjadi witir. Oleh karena itu seseorang tidak disyariatkan ketika berjalan untuk menghitung langkahnya supaya menjadi witir, ketika makan tidak disyariatkan menghitung suapan berjumlah witir, ketika minum tidak disyariatkan menghitung jumlahnya menjadi witir; karena tiak ada asalnya dan hal ini tidak disyariatkan. Bahkan mengkhususkan ibadah dengan pengkhususan yang tidak dikhususkan Allah dan Rasul-Nya adalah perbuatan bid’ah(mengada-ngada dalam hal agama).[aldi/kumpulankonsultasi]

READ MORE - Allah SWT Suka dengan Hal Ganjil. Ini Alasannya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...