Inilah Pembatal - Pembatal Wudhu

Seseorang yang mengalami hal-hal yang membatalkan wudhu’ disebut mengalami hadats kecil. Pembatal-pembatal wudhu’ :

Keluarnya sesuatu dari 2 jalan (dubur dan kemaluan) seperti:

a) Kencing dan kotoran manusia

...أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ...

…atau ketika kalian baru keluar dari kamar kecil (untuk buang air)…(Q.S al-Maidah:6)

b) Mani.

Mengeluarkan mani secara memancar berarti hadats besar dan mengharuskan mandi janabah. Para Ulama’ menjelaskan bahwa segala hal yang mengharuskan mandi adalah membatalkan wudhu’

Inilah Pembatal - Pembatal Wudhu

c) Madzi

Nabi memerintahkan kepada Ali yang bertanya melalui al-Miqdad bin al-Aswad untuk berwudhu’, jika mengeluarkan madzi.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ

Dari Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu anhu – beliau berkata: Saya adalah seseorang yang sering mengeluarkan madzi. Kemudian aku perintahkan kepada al-Miqdad bin al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam. Ia pun bertanya kepada Nabi, dan Nabi bersabda: itu (menyebabkan harus) berwudhu’ (H.R al-Bukhari no 129).

d) Wadi, cairan putih yang mengiringi kencing,hukumnya sama dengan kencing. Membatalkan wudhu’ dan najis

e) Angin dari dubur

عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Dari Hammam bin Munabbih bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah diterima sholat seseorang yang berhadats hingga ia berwudhu’. Kemudian seseorang laki-laki dari Hadhramaut bertanya: Apa yang dimaksud dengan hadats itu wahai Abu Hurairah? Abu Hurairah menjawab: buang angin yang tidak berbunyi ataupun berbunyi (H.R al-Bukhari no 132)

f) Darah istihadhah pada wanita

Darah istihadhah adalah darah penyakit. Ciri fisik darahnya berbeda dengan ciri fisik pada darah haid. Hukumnya juga berbeda dengan hukum darah haid. Darah istihadhah mirip darah akibat luka sehingga berwarna merah segar. Wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, ia harus berwudhu’ pada setiap waktu sholat. Misalkan, masuk waktu Dzhuhur, maka ia harus berwudhu’, kemudian sholat Dzhuhur beserta sholat-sholat sunnah lain dengan wudhu’ itu. Jika masuk waktu Ashar ia harus berwudhu’ lagi. Masuk waktu Maghrib ia berwudhu’ lagi, demikian seterusnya. Sebagaimana perintah Nabi kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy yang mengalami istihadhah untuk berwudhu’ setiap masuk waktu sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

g) Hilangnya akal atau kesadaran seperti pingsan atau tidur yang nyenyak.

Seseorang yang tidur sangat nyenyak, atau yang hilang kesadaran seperti pingsan, wudhu’nya batal. Dalam hadits Shofwan bin Assal tentang menyapu dua sepatu, Nabi menyamakan tidur dengan kencing dan buang air besar sebagai hadats kecil:

وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

…akan tetapi dari buang air besar, kencing, dan tidur (H.R atTirmidzi, anNasaai, dishahihkan Ibnu Khuzaimah)

h) Memakan daging unta.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ

Dari Jabir bin Samuroh bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam: Apakah saya berwudhu jika makan daging kambing? Nabi bersabda: Jika engkau mau, silakan berwudhu’, jika mau silakan tidak berwudhu’. Ia bertanya lagi: Apakah saya berwudhu’ jika makan daging unta? Nabi bersabda: Ya. Berwudhu’lah jika makan daging unta (H.R Muslim no 539)

i) Riddah (murtad, keluar dari Islam)

Sebagian Ulama’ menganggap orang yang murtad menjadi batal wudhu’nya, sebagaimana batalnya seluruh amalnya (Q.S az-Zumar:65). 

Sehingga jika ada seseorang yang berwudhu’ kemudian ia melakukan ucapan atau perbuatan yang menyebabkan dirinya keluar dari Islam, maka wudhu’nya batal. Jika kemudian ia memperbaharui keislamannya dengan mengucapkan syahadat lagi dan ia ingin sholat, maka ia harus berwudhu’ lagi.

Segala hal yang membatalkan wudhu’ jika terjadi pada saat seseorang sedang sholat, maka otomatis sholatnya batal.

Jika Seseorang yang terkena najis pada tubuh atau pakaiannya, apakah secara otomatis wudhu’nya batal?

Jawab : Tidak batal, karena yang membatalkan wudhu’ adalah hadats, bukan najis. Najis tetap harus dibersihkan, namun tidak membatalkan wudhu’ (sebagaimana fatwa Syaikh Sholih alFauzan)

Jika seseorang yang sebelumnya telah berwudhu’ namun ia ragu apakah sudah batal atau belum. Apa yang harus dilakukan?

Jawab: Jika seseorang ragu apakah ia sudah batal atau belum, maka hendaknya mendasarkan atas sesuatu yang meyakinkan. Hal yang meyakinkan adalah ia sudah berwudhu’ sedangkan batalnya wudhu’ adalah berdasarkan sesuatu yang meragukan. Maka hendaknya ia memilih bahwa ia masih dalam kondisi suci (tidak batal).

Sebaliknya, jika ia yakin bahwa wudhu’nya batal, namun ragu apakah ia telah berwudhu’ atau belum, maka hendaknya ia memilih keyakinan bahwa ia belum berwudhu’. Karena kondisi ia berwudhu’ didasarkan atas sesuatu hal yang meragukan.

Kaidahnya adalah: hal yang meragukan tidak bisa mengalahkan sesuatu yang meyakinkan.

Landasan kaidah ini adalah hadits:

عَنْ سَعِيدٍ وَعَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ شُكِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ لَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Dari Said dan Abbad bin Tamim dari pamannya bahwa telah diadukan kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang seseorang yang terganggu pada pikirannya seakan-akan ia mengalami sesuatu (batal) dalam sholatnya. Nabi bersabda: Janganlah ia berpaling (menghentikan sholat) hingga ia mendengar suara atau mendapati bau (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz riwayat Muslim no 540)

Artinya, janganlah membatalkan sholat hingga mendapatkan sesuatu yang meyakinkan bahwa ia membatalkan sholat. Hal ini juga berlaku untuk masalah wudhu’. Tidaklah wudhu’ menjadi batal kecuali dengan sesuatu yang meyakinkan membatalkan wudhu’.

Apa saja perbuatan (amalan ibadah) yang menyebabkan seseorang diharuskan berwudhu’?

Jawab:

Amalan ibadah yang harus dilaksanakan dalam kondisi seseorang suci dari hadats (besar atau kecil) adalah:

Sholat

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Allah tidak menerima sholat seseorang jika berhadats sampai dia berwudhu’ (H.R alBukhari no 6440 dari Abu Hurairah)

Thowaf di Baitullah

الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ بِمَنْزِلَةِ الصَّلَاةِ، إِلَّا أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَلَّ فِيهِ الْمِنْطَقَ، فَمَنْ نَطَقَ فَلَا يَنْطِقْ إِلَّا بِخَيْرٍ

Thowaf di Baitullah (al-Ka’bah) adalah seperti sholat. Kecuali sesungguhnya Allah menghalalkan berbicara di dalamnya. Barangsiapa berbicara, janganlah berbicara kecuali kebaikan (H.R al-Hakim dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas, dinyatakan oleh al-Hakim bahwa hadits ini shahih dan sesuai syarat Muslim, disepakati adz-Dzahaby)

Memegang/ menyentuh mushaf al-Quran

لَا تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Janganlah menyentuh al-Quran kecuali engkau dalam keadaan suci (H.R al-Hakim, dishahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahaby, Ibnul Mulaqqin, al-Munawy). 

Larangan menyentuh mushaf al-Quran bagi orang yang berhadats (baik kecil ataupun besar) adalah pendapat dari Jumhur (mayoritas) Ulama’ dan didukung oleh Syaikh Bin Baz (Majmu’ Fataawa Bin Baaz (4/384-384)).

Apa saja perbuatan yang menyebabkan seseorang disunnahkan untuk berwudhu’?

Jawab:

Seseorang yang beribadah kepada Allah sebaiknya dalam kondisi suci dari hadats besar dan kecil. Walaupun dalam ibadah-ibadah tertentu, tidak dipersyaratkan harus suci hadats besar dan kecil, namun sebaiknya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah sebaiknya dalam kondisi tidak berhadats.

Contoh beberapa perbuatan yang sebaiknya dilakukan dalam keadaan tidak berhadats/ berwudhu sebelumnya:

Ikut memanggul jenazah.

مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Barangsiapa yang memandikan jenazah hendaknya mandi, dan barangsiapa yang memanggulnya, maka hendaknya berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Menyentuh kemaluan.

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaknya ia berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan Ahmad dari Busroh bintu Shofwan)

Perintah berwudhu’ ketika menyentuh kemaluan ini adalah sunnah, bukan kewajiban. Karena dalam hadits lain, Nabi ditanya apakah seseorang yang menyentuh kemaluannya harus berwudhu’? Nabi menjawab bahwa itu hanyalah bagian dari anggota tubuhnya (tidak wajib berwudhu’)

جَاءَ رَجُلٌ كَأَنَّهُ بَدَوِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَرَى فِي رَجُلٍ مَسَّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ وَهَلْ هُوَ إِلَّا مُضْغَةٌ مِنْكَ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْكَ

Datang seorang laki-laki sepertinya ia adalah dari pedalaman. Ia berkata: Wahai Rasulullah bagaimana pendapat anda tentang seorang laki-laki yang menyentuh kemaluannya dalam sholat? Nabi bersabda: Bukankah itu adalah bagian dari anggota tubuhmu? (H.R anNasaai dishahihkan Ibn Hibban)

Mengumandangkan adzan dan iqomah.

Sujud tilawah dan sujud syukur.

Ketika akan tidur

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ ، لاَ يَسْتَيْقِظُ سَاعَةً مِنْ لَيْلٍ ، إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ : اللهمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلاَنٍ ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Barangsiapa yang tidur (malam) dalam keadaan suci, satu Malaikat akan bermalam pada rambutnya. Tidaklah ia bangun pada waktu malam kecuali Malaikat itu berdoa: Ya Allah ampunilah Fulaan, karena ia tidur (malam) dalam keadaan suci (H.R Ibnu Hibban dari Ibnu Umar, dishahihkan al-Albany dalam as-Shahihah)

Segala bentuk ibadah sebaiknya dalam kondisi suci dari hadats jika mampu. Sikap tersebut bagian dari memulyakan syiar Allah, dan merupakan tanda ketakwaan.

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ 

Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu termasuk ketakwaan dalam hati (Q.S al-Hajj:32)

Apakah Semua Bentuk Tidur Membatalkan Wudhu’?

Jawab:

Tidak semua tidur membatalkan wudhu’. Tidur yang membatalkan wudhu’ adalah tidur nyenyak sehingga menghilangkan kesadaran penuh. Sehingga apabila mereka berhadats dalam kondisi tidur seperti itu mereka tidak bisa merasakan. Tidur semacam ini membatalkan wudhu’. 

Sedangkan tidur yang ringan tidaklah membatalkan wudhu’. Para Sahabat Nabi pernah tertidur saat menunggu datangnya Nabi untuk menjadi Imam dalam sholat Isya’, namun mereka kemudian langsung sholat tanpa berwudhu’ lagi.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ

Dari Anas –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menunggu sholat Isya’ akhir sampai terangguk-angguk kepala mereka kemudian mereka sholat dan tidak berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan ad-Daraquthny, dishahihkan oleh ad-Daraquthny)

Pendapat yang merinci jenis tidur tersebut adalah pendapat al-Imam Malik dan salah satu riwayat pendapat al-Imam Ahmad. Pendapat ini juga didukung oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, Syaikh Bin Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin.

Intinya, tidur yang menghilangkan kesadaran sehingga jika berhadats dalam tidur tidak terasa, menyebabkan batal wudhu’. Tidak peduli apakah posisi tidurnya berdiri, berbaring, atau duduk.

Tidur sendiri bukanlah sesuatu yang membatalkan wudhu’, namun tidur adalah kondisi yang tidak bisa dijaga seseorang mengalami hadats. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits:

الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

Mata adalah pengikat dubur, barangsiapa yang tidur hendaknya berwudhu’ (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dihasankan oleh anNawawy, al-Mundziri, Ibnus Sholah, al-Albany dan Ibn Baz)

Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?

Jawab:

Sekedar menyentuh, tidaklah membatalkan wudhu’. Al-Quran menggunakan kata ‘menyentuh’ yang artinya adalah bersetubuh.

...أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

…atau kalian ‘menyentuh’ para wanita, kemudian tidak mendapati air, hendaknya bertayammum dengan tanah yang baik…(Q.S anNisaa’:43)

Makna ‘menyentuh’ dalam ayat tersebut bukan sekedar menyentuh kulit satu sama lain. Tapi, maknanya adalah bersetubuh. Sebagaimana dijelaskan oleh Sahabat Nabi Ibnu Abbas (Tafsir Ibnu Katsir (2/314)).

Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah dalam keadaan berwudhu’ mencium istrinya kemudian langsung berangkat sholat tanpa harus berwudhu’ lagi.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju sholat tidak berwudhu’ (lagi)(H.R Abu Dawud)

Meski tidak membatalkan wudhu, namun sengaja menyentuh wanita yang bukan mahram tanpa ada keperluan yang darurat adalah berdosa.

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

Seandainya kepala salah seorang dari kalian diusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dibandingkan menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahram)(H.R atThobarony, dinyatakan oleh al-Haiytsamy bahwa para perawinya adalah perawi-perawi yang shahih, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Munawy).

Termasuk juga berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram adalah terlarang. Manusia yang paling suci hatinya, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tidak pernah berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, sekalipun untuk perbuatan yang sangat penting, yaitu baiat.

Umaimah bintu Ruqoiqoh radhiyallahu anha pernah menyatakan:

جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ نُبَايِعُهُ فَقَالَ لَنَا فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ

Saya mendatangi Nabi shollallahu alaihi wasallam bersama sekelompok wanita yang akan berbaiat pada beliau. Maka Nabi bersabda kepada kami: sesuai dengan kemampuan kalian. Aku tidaklah berjabat tangan dengan para wanita (H.R anNasaai, Ibnu Majah dishahihkan Ibn Hibban dan al-Albany)

Apa yang harus dilakukan seseorang yang berhadats terus menerus?

Jawab:

Jika seseorang berhadats terus menerus karena penyakit, seperti selalu mengeluarkan air kencing, atau selalu buang angin, maka hukumnya sama seperti wanita yang istihadhah. Hendaknya ia berwudhu’ setiap masuk waktu sholat, kemudian silakan sholat wajib dan sunnah yang mampu dikerjakan dengan wudhu’ itu, jangan pedulikan hadats yang menimpanya karena hal itu adalah penyakit. Jika masuk waktu sholat berikutnya, ia harus berwudhu’ lagi. 

Jika hadats itu adalah sesuatu hal yang najis, seperti kencing, hendaknya ia gunakan suatu penghalang semacam pembalut atau semisalnya sehingga tidak mengenai pakaiannya, dan hendaknya ia berusaha untuk mencari pengobatan yang tidak bertentangan dengan syar’i untuk berusaha menyembuhkan penyakitnya tersebut.

Demikian dijelaskan oleh para Ulama di antaranya Syaikh Ibn Utsaimin.

Apakah Seseorang yang Batal Wudhu’nya Harus Beristinja’?

Jawab:

Istinja’ hanya disyariatkan jika seseorang kencing (juga keluar madzi atau wadi) atau buang air besar. Adapun batal wudhu’ karena sebab yang lain tidak perlu beristinja’, sebagaimana difatwakan Syaikh Bin Baz (Fataawa Islaamiyyah (1/259)), demikian juga Fatwa al-Lajnah ad-Daimah.

Apakah Setiap Kali Akan Sholat Harus Berwudhu lagi Meski Wudhu Sebelumnya Belum Batal?

Jawab:

Tidak harus. Namun, jika seseorang meski belum batal wudhu’nya tetap memperbaharui wudhu, ia akan mendapatkan keutamaan-keutamaan wudhu yang banyak seperti yang akan dijelaskan pada bab berikutnya, insyaAllah. 

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dulunya selalu berwudhu setiap kali akan sholat meski masih belum batal wudhunya, namun kemudian setelah tahun Fathu Makkah, beliau melakukan beberapa sholat dengan satu wudhu (selama belum batal) untuk menunjukkan bolehnya hal itu dilakukan.

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ فَلَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ

Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam dulu berwudhu pada setiap sholat. Ketika tahun Fathu Makkah beliau (pernah) melakukan seluruh sholat (5 waktu) dengan satu wudhu (H.R atTirmidzi, anNasaai, dinyatakan hasan shahih oleh atTirmidzi dan dishahihkan al-Albany)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي عَامِرِ ابْنَ الْغَّسِيلِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أُمِرَ بِالْوُضُوءِ لِكُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا كَانَ أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ فَلَمَّا شَقَّ ذَلِكَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرَ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَوُضِعَ عَنْهُ الْوُضُوءُ إِلَّا مِنْ حَدَثٍ

Dari Abdullah bin Handzholah bin Abi Amir bin al-Ghosiil bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dulu diperintah untuk berwudhu pada setiap sholat baik dalam keadaan masih suci (belum batal wudhu) ataupun tidak suci. Ketika hal itu berat dirasakan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau (kemudian) diperintah untuk bersiwak setiap sholat dan dihapus kewajiban berwudhu kecuali bagi orang yang berhadats (yang akan sholat, pent)(H.R Ahmad, dishahihkan al-Hakim disepakati adz-Dzahaby dan dinyatakan sesuai syarat Shahih Muslim).

dikutip dari draft buku ‘Fiqh Bersuci dan Sholat Sesuai Tuntunan Nabi’ karya Abu Utsman Kharisman

READ MORE - Inilah Pembatal - Pembatal Wudhu

Teknik dan Cara Acian Dinding Tembok Rumah yang Baik dan Benar

Meski terkesan mudah dan sederhana, hasil pengacian pada dinding (acian dinding) tidaklah sebagus yang kita kira. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, Anda harus memperhatikan proses-nya langkah demi langkah dengan cermat.

Poin pertama acian dinding yang harus Anda perhatikan adalah plesteran pada dinding rumah yang akan Anda aci. Aplikasi acian sangat tergantung dari kualitas plesteran. Kualitas plesteran yang baik akan menghasilkan acian dinding tembok rumah yang baik pula. Plesteran harus rata dan halus sehingga akan menghemat bahan acian dinding. Jika pasir yang digunakan untuk plesteran mengandung lumpur terlalu tinggi, maka akan terjadi penyusutan sehingga plesteran akan retak yang berakibat retak dinding tembok rumah.

Teknik dan Cara Acian Dinding Tembok Rumah yang Baik dan Benar

Untuk itu sebelum dilakukan acian, plesteran harus kering dan tidak terjadi lagi penyusutan. Seharusnya acian dinding dilakukan pada plesteran berumur 2-3 minggu untuk dinding dalam sedangkan untuk dinding luar bisa lebih cepat (2 minggu). Apabila acian terlalu cepat dilakukan maka dapat menimbulkan retak pada acian. Jika dinding bata sangat basah pada saat dilakukan plesteran, maka air akan terperangkap sehingga diperlukan waktu lama untuk mengeluarkan air tersebut. Sebaliknya permukaan plesteran yang kering juga berpengaruh buruk terhadap hasil acian.

Sebelum melakukan acian, basahi dulu permukaan plesteran dengan air. Hal tersebut penting untuk menghindari agar acian atau white mortar tidak terlalu cepat kering. Semen pada white mortar sangat membutuhkan air untuk proses hidrasi. Jika acian terlalu cepat kering maka hasil acian akan lunak dan permukaan acian akan berdebu. Apabila waktu yang dibutuhkan dari selesai penghamparan acian sampai acian dapat dipoles sekitar 20-30 menit, maka kelembapan plesteran cukup. Tetapi apabila kurang dari 20 menit berarti plesteran terlalu kering, dan apabila lebih dari 30 menit berarti plesteran terlalu lembab.

Tebal acian juga mempengaruhi kulitas hasilnya. Tebal acian seharusnya adalah 1-3 mm. Jika kurang dari 1 mm akan mengering terlalu cepat. Apabila lapisan pertama kurang dari 1 mm maka sebelum lapis pertama tersebut kering harus dilakukan lapis berikutnya sampai minimal 1 mm. Apabila pada plesteran terdapat banyak lubang maka satu hari sebelum dilakukan acian, lubang–lubang tersebut harus ditutup. Apabila tebal acian lebih dari 3 mm, maka harus dilakukan dua lapis. Biarkan lapisan pertama kering selama beberapa hari baru dilakukan lapisan berikutnya.

READ MORE - Teknik dan Cara Acian Dinding Tembok Rumah yang Baik dan Benar

Makna dan Hakikat Cinta, Rindu dan Cemburu

Banyak orang berbicara tentang masalah ini tapi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Atau tidak menjelaskan batasan-batasan dan maknanya secara syar’i. Dan kapan seseorang itu keluar dari batasan-batasan tadi. Dan seakan-akan yang menghalangi untuk membahas masalah ini adalah salahnya pemahaman bahwa pembahasan masalah ini berkaitan dengan akhlaq yang rendah dan berkaitan dengan perzinahan, perkataan yang keji. Dan hal ini adalah salah. Tiga perkara ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan manusia yang memotivasi untuk menjaga dan mendorong kehormatan dan kemuliaannya. Aku memandang pembicaraan ini yang terpenting adalah batasannya, penyimpangannya, kebaikannya, dan kejelekannya. Tiga kalimat ini ada dalam setiap hati manusia, dan mereka memberi makna dari tiga hal ini sesuai dengan apa yang mereka maknai.

Cinta (Al-Hubb)

Cinta, Rindu dan Cemburu

Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota badan/dhahir. Pernikahan itu tidak akan bahagia dan berfaedah kecuali jika ada cinta dan kasih sayang diantara suami-isteri. Dan kuncinya kecintaan adalah pandangan. Oleh karena itu, Rasulullah Sawmenganjurkan pada orang yang meminang untuk melihat pada yang dipinang agar sampai pada kata sepakat dan cinta, seperti telah kami jelaskan dalam bab Kedua.

Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i dari Mughirah bin Su’bah r.a berkata : “Aku telah meminang seorang wanita”, lalu Rasulullah Sawbertanya kepadaku : “Apakah kamu telah melihatnya ?” Aku berkata : “Belum”, maka beliau bersabda : “Maka lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu pada akhirnya akan lebih menambah kecocokan dan kasih sayang antara kalian berdua”

Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang, lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut membicarakan masalah “cinta”, bahkan umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang haram, karena itu mereka merasa menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan mereka mengira diri mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka memandang, bila hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.

Kenyataannya, bahwa di sini banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang “cinta” dan apa-apa yang tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat, karena sesungguhnya dia memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat dari lelaki-lelaki rusak dan perempuan-perempuan rusak yang diantara mereka menegakkan hubungan yang tidak disyariatkan. Mereka saling duduk, bermalam, saling bercanda, saling menari, dan minum-minum, bahkan sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka mengira bahwa ‘cinta’ tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal sebenarnya tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.

Sesungguhnya kecenderungan seorang lelaki pada wanita dan kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan syahwat dari syahwat-syahwat yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam masalah cinta. Artinya Allah menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang menyebabkan hati laki-laki itu cenderung pada wanita, sebagaimana firman Allah Swt :

["Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak,..."] Ali-’Imran : 14

Allah lah yang menghiasi bagi manusia untuk cinta pada syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta yang besar, dan sungguh telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi Saw bersabda :

["Diberi rasa cinta padaku dari dunia kalian : wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam sholat"] HR Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi.

Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki pada wanita atau sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada keturunan dan tidak ada keluarga. Namun, Allah Swt tidaklah menjadikan lelaki cinta pada wanita atau sebaliknya supaya menumbuhkan diantara keduanya hubungan yang diharamkan, tetapi untuk menegakkan hukum-hukum yang disyari’atkan dalam bersuami isteri, sebagaimana tercantum dalam hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas r.a berkata : telah bersabda Rasulullah Saw:

["Tidak terlihat dua orang yang saling mencintai, seperti pernikahan"]
Dan agar orang-orang Islam menjauhi jalan-jalan yang rusak atau keji, maka Allah telah menyuruh yang pertama kali agar menundukan pandangan, karena ‘pandangan’ itu kuncinya hati, dan Allah telah haramkan semua sebab-sebab yang mengantarkan pada fitnah, dan kekejian, seperti berduaan dengan orang yang bukan mahramnya, bersenggolan, bersalaman, berciuman antara lelaki dan wanita, karena perkara ini dapat menyebabkan condongnya hati. Maka bila hati telah condong, dia akan sulit sekali menahan jiwa setelah itu, kecuali yang dirahmati Allah Swt.

Bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia dalam kecenderungan hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan sebab jika kecenderungan itu diikuti dengan amalan-amalan yang diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan wanita saling pandang memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar, lalu cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal itu berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai hatinya. Akan tetapi, keduanya diazab karena apa yang dia lakukan. Dan karena keduanya melakukan sebab-sebab yang menyampaikan pada ‘cinta’, seperti perkara yang telah kami sebutkan. Dan keduanya akan dimintai tajawab, dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang dia perbuat setelah itu.

Adapun cinta yang murni yang dijaga kehormatannya, maka tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan olsebagian ulama seperti Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai seseorang lalu menjaga kehormatan dirinya dan dia menyembunyikan cintanya maka dia diberi pahala, sebagaimana akan dijelaskan dalam ucapan kami dalam bab ‘Rindu’. Dan dalam keadaan yang mutlak, sesungguhnya yang paling selamat yaitu menjauhi semua sebab-sebab yang menjerumuskan hati dalam persekutuan cinta, dan mengantarkan pada bahaya-bahaya yang banyak, namun …..sangat sedikit mereka yang selamat.

Rindu (Al-’Isyq)

Rindu itu ialah cinta yang berlebihan, dan ada rindu yang disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan. Maka rindu tersebut bukanlah hal yang tercela dan keji secara mutlak. Tetapi bisa jadi orang yang rindu itu, rindunya disertai dengan menjaga diri dan kesucian, dan kadang-kadang ada rindu itu disertai kerendahan dan kehinaan.

Sebagaimana telah disebutkan, dalam ucapan kami tentang cinta maka rindu juga seperti itu, termasuk amalan hati, yang orang tidak mampu menguasainya. Tapi manusia akan dihisab atas sebab-sebab yang diharamkan dan atas hasil-hasilnya yang haram. Adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri padanya dan menyembunyikannya dari orang-orang, maka padanya pahala, bahkan Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi’ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa termasuk dari golongan syuhada di akhirat ialah orang-orang yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan disembunyikan dari orang-orang meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang haram sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.

Makna ucapan Suyuthi adalah orang-orang yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan, dengan tetap menjaga kehormatan dan menyembunyikan kerinduannya sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai mati karena kerinduan tersebut maka dia mendapatkan pahala syahid di akhirat. Hal ini tidak aneh jika fahami kesabaran orang ini dalam kerinduan bukan dalam kefajiran yang mengikuti syahwat dan dia bukan orang yang rendah yang melecehkan kehormatan manusia bahkan dia adalah seorang yang sabar, menjaga diri meskipun dalam hatinya ada kekuatan dan ada keterkaitan dengan yang dirindui, dia tahan kekerasan jiwanya, dia ikat anggota badannya sebab ini di bawah kekuasaannya. Adapun hatinya dia tidak bisa menguasai maka dia bersabar atasnya dengan sikap afaf (menjaga diri) dan menyembunyikan kerinduannya sehingga dengan itu dia mendapat pahala.

Cemburu (Al-Ghairah)

Cemburu ialah kebencian seseorang untuk disamai dengan orang lain dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari buah cinta. Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai. Dan cemburu itu termasuk sifat yang baik dan bagian yang mulia, baik pada laki-laki atau wanita.

Ketika seorang wanita cemburu maka dia akan sangat marah ketika suaminya berniat kawin dan ini fitrah padanya. Sebab perempuan tidak akan menerima madunya karena kecemburuannya pada suami, dia senang bila diutamakan, sebab dia mencintai suaminya. Jika dia tidak mencintai suaminya, dia tidak akan peduli (lihat pada bab I). Kita tekankan lagi disini bahwa seorang wanita akan menolak madunya, tetapi tidak boleh menolak hukum syar’i tentang bolehnya poligami. Penolakan wanita terhadap madunya karena gejolak kecemburuan, adapun penolakan dan pengingkaran terhadap hukum syar’i tidak akan terjadi kecuali karena kelalaian dan kesesatan. Adapun wanita yang shalihah, dia akan menerima hukum-hukum syariat dengan tanpa ragu-ragu, dan dia yakin bahwa padanya ada semua kebaikan dan hikmah. Dia tetap memiliki kecemburuan terhadap suaminya serta ketidaksenangan terhadap madunya.

Kami katakan kepada wanita-wanita muslimah khususnya, bahwa ada bidadari yang jelita matanya yang Allah Swt jadikan mereka untuk orang mukmin di sorga. Maka wanita muslimat tidak boleh mengingkari adanya ‘bidadari’ ini untuk orang mukmin atau mengingkari hal-hal tersebut, karena dorongan cemburu. Maka kami katakan padanya :

Dia tidak tahu apakah dia akan berada bersama suaminya di surga kelak atau tidak.

Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di dunia.

Bahwasanya Allah Swt telah mengkhususkan juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski kita tidak mengetahui secara rinci.

Surga merupakan tempat yang kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati manusia, seperti firman Allah Swt

["Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan"] As-Sajdah : 17

Oleh karena itu, tak seorang pun mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari penyejuk mata sebagai balasan pada apa-apa yang mereka lakukan. Dan di sorga diperoleh kenikmatan-kenikmatan bagi mukmin dan mukminat dari apa-apa yang mereka inginkan, dan juga didapatkan hidangan-hidangan, dan akan menjadi saling ridho di antara keduanya sepenuhnya. Maka wajib bagi keduanya (suami-isteri) di dunia ini untuk beramal sholeh agar memperoleh kebahagiaan di sorga dengan penuh kenikmatan dan rahmat Allah Swt yang sangat mulia lagi pemberi rahmat.

Adapun kecemburuan seorang laki-laki pada keluarganya dan kehormatannya, maka hal tersebut ‘dituntut dan wajib’ baginya karena termasuk kewajiban seorang laki-laki untuk cemburu pada kehormatannya dan kemuliaannya. Dan dengan adanya kecemburuan ini, akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya. Adapun contoh kecemburuan dia pada isteri dan anak-anaknya, yaitu dengan cara tidak rela kalau mereka telanjang dan membuka tabir di depan laki-laki yang bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki itu saudaranya atau anak-anaknya.

Anehnya bahwa kecemburuan seperti ini, di jaman kita sekarang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain. Akan tetapi akan hilang keheranan itu ketika kita sebutkan bahwa manusia di jaman kita sekarang ini telah hidup dengan adat barat yang jelek. Dan maklum bahwa masyarakat barat umumnya tidak mengenal makna aib, kehormatan dan tidak kenal kemuliaan, karena serba boleh (permisivisme), mengumbar hawa nafsu kebebasan saja. Maka orang-orang yang mengagumi pada akhlaq-akhlaq barat ini tidak mau memperhatikan pada akhlaq Islam yang dibangun atas dasar penjagaan kehormatan, kemuliaan dan keutamaan.

Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-sifat yang jelek, yaitu ‘Dayyuuts’. Sungguh ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir r.a, serta dari Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dari Abdullah bin Amr r.a, dari Nabi Saw bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr, pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan keharaman.

READ MORE - Makna dan Hakikat Cinta, Rindu dan Cemburu

Saya rasa semua kita sudah mengetahui bagaimana sederhananya rumah Rasulullah saw

Saudaraku. Apakah saudara seorang kontraktor? Jika benar, ketika saudara ingin membangun atau mencicil rumah, tolong berpikirlah dalam-dalam terlebih dulu. Seperti, "Rumah ini untuk siapa?" Karena kita sering mendesain atau mengambil cicilan rumah untuk dipuji orang lain. Padahal kita mati-matian membayar cicilannya.

Walau pun ada orang memuji rumah kita, yang mungkin katanya bagus dan antik, tapi tetap saja dia tidak menyumbang untuk cicilannya. Seperti kalau kita membeli motor bagus, lalu ada yang bilang, "Wah motor kamu keren." Sekadar begitu, dan dia tidak mau membelikan bensinnya. Kecuali kalau setiap orang yang memuji rumah kita juga memberi uang sejuta, tidak apa-apa bangun rumah sebagus mungkin.

Jadi, kalau mau membikin atau mengambil cicilan rumah, jangan memikirkan penilaian orang. Bangunlah rumah sesuai kemampuan dan keperluan. Misalnya, mengapa kita membuat rumah tipe kerajaan, padahal modalnya terbatas? Nanti yang siap hanya pilarnya saja, dan, menunggu dana terkumpul setahun lagi, kita tidur bersama anak-anak di dalam tenda. Malah jadi aneh. Atau, mungkin secara modal kita mampu, lalu membangun rumah dengan 15 kamar tidur. Padahal kita keluarga kecil, dan yang dipakai hanya tiga kamar. Sisanya dibiarkan kosong bertahun-tahun menjadi sarang kelelawar.

Saya rasa semua kita sudah mengetahui bagaimana sederhananya rumah Rasulullah saw

Bukan harus jelek rumahnya, tapi proporsional. Sesuai kemampuan dan keperluan. Saya rasa semua kita sudah mengetahui bagaimana sederhananya rumah Rasulullah saw. Mungkin kita tidak sanggup sesederhana beliau. Tapi, setidaknya jangan memaksakan diri jika tidak punya modal.

Apalagi kalau tinggal di rumah bagus, kita cenderung untuk riya. Seperti saat ada yang bertanya, "Saudara tinggal di mana?" Kita lebih suka menjawab, "Cipaganti." Sehingga yang dibayangkan orang adalah Jalan Cipaganti. Padahal tempat tinggal kita ada di Gang Mak Uneh. Mengapa kita menyebut Cipaganti? Dulu mungkin. Atau, "Tinggal di mana di Jakarta?" Dijawab, "Pondok Indah." Tapi karena dari penampilan kita sudah membuat orang tidak yakin, kita bisa ditanya lagi, "Saudara yakin di Pondok Indah ada gang-gang sempitnya?"

Saudaraku. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, penduduk di Kufah dan Basrah pada awalnya tinggal di tenda-tenda. Dengan pertimbangan, untuk memudahkan jika terjadi peperangan. Kemudian mereka meminta izin kepada Umar untuk membangun tempat tinggal dengan bahan rotan. Umar pun mengizinkan. Tapi setelah itu terjadi kebakaran di kedua kota tersebut. Sehingga mereka kembali meminta izin kepada khalifah Umar untuk membangun rumah dari batu bata.

Umar pun kembali mengizinkan: "Silakan lakukan. Tetapi jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian membangun lebih dari tiga kamar, dan jangan berlebih-lebihan dalam bangunan." Lalu, ada yang bertanya tentang ukurannya. Umar menjawab: "Tidak mendekatkan kepada pemborosan dan tidak mengeluarkan dari hidup bersahaja." Pesan yang serupa beliau kirimkan kepada Saad bin Abi Waqqash di Kufah, dan Uthbah bin Ghazwan di Basrah.

Nah, dari sana kita bisa melihat bagaimana kehati-hatian kaum muslimin generasi awal dalam membangun rumah. Mereka membangunnya sesuai keperluan dan kemampuan, menjauhi pemborosan dan berlebih-lebihan, dan terhindar dari perlombaan bermewah-mewahan. Bagi mereka, yang penting rumahnya bisa untuk istirahat, melindungi dari panas terik matahari, udara dingin dan hujan.

Berbeda jauh sekali dengan kita sekarang. Kita bisa sibuk membangun rumah bertahun-tahun sampai lupa ke pengajian. Sibuk membeli asesoris dan perabotan, sehingga tersiksa cicilan serta tidak lagi membayar zakat dan bersedekah. Padahal semua itu hanya untuk pamer dan berharap dipuji makhluk. "Alhamdulillah, ini rumah saya." Menyebut "alhamdulillah" tidak ingat kepada Allah. Tapi mengingat-ingat bagian rumah yang akan diceritakan atau dipamerkan terlebih dulu.

Jangan, saudaraku! Bangunlah rumah sesuai kemampuan dan keperluan. Jangan sampai hanya demi rumah, hidup kita di dunia dan akhirat tersiksa. Mengapa kita berharap pujian makhluk? Jika Allah berkehendak, tinggal diberi gempa 7 SR, langsung rata rumah kita. "Tenang Aa, rumah saya bagus dan antigempa." Kalau begitu dinaikkan 12 SR. Rumah saudara mungkin tetap bagus, tapi tertimbun di dalam tanah.

Bangun yang proporsional saja. Mulailah menghindarkan dunia ini supaya tidak mendominasi hati. Jangan bangga maupun minder dengan rumah. Baik istana atau pun gubuk, dan semua rumah yang ada di dunia ini milik Allah SWT. Kita hanya bergiliran menumpang dan mengaku-aku saja memilikinya.[mozaik.inilah.com]

READ MORE - Saya rasa semua kita sudah mengetahui bagaimana sederhananya rumah Rasulullah saw

Jangan Biarkan Anak Keluar Rumah Ketika Maghrib

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika malam telah turun – atau ketika sore menjelang malam – maka tahanlah anak-anak kamu (jangan sampai keluar rumah) karena setan-setan tengah menyebar di saat itu. Setelah berlangsung beberapa saat lamanya, biarkan mereka bermain. Tutuplah semua pintu, bacalah nama Allah, karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup. Tutupi tempat minum kalian dengan menyebut nama Allah, sekalipun hanya dengan menaruh sesuatu di atasnya.”

Dalam redaksi lain,

“Jika kalian tidak menemukan tutup selain menaruh sebatang kayu di atas wadah kalian, maka lakukanlah dengan menyebut nama Allah.”

Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3280, Muslim no. 2012, Abu Dawud no. 3733 dengan sedikit perbedaan serta dari Tirmidzi no. 1812 dan Ibnu Majah no. 3410 tanpa ada syahid (penguat) dalam riwayat keduanya.



Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dalam hal memasang (meletakkan) sebatang kayu di atas perabotan dapur terdapat hikmah, yaitu jangan sampai lupa menutupinya sekalipun hanya dengan sebatang kayu. Dalam hadits ini juga terdapat faedah bahwa barangkali akan ada serangga yang jatuh ke atas makanan, ia bisa melewati kayu tersebut sehingga tidak jatuh ke makanan.” (Zad Al-Ma’ad 4/233).

Dalam riwayat Muslim dari shahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,

“Saya mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tutupilah wadah, selimuti tempat minum, karena dalam masa setahun ada satu malam yang turun di dalamnya satu wabah yang tidak melewati satu wadah yang tidak ditutup, atau tempat minum yang tidak ditutup, melainkan wabah tersebut akan masuk ke dalamnya.” (HR Muslim no. 2014).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ini termasuk perkara yang tidak bisa disentuh ilmu dan pengetahuan para dokter, masalah ini telah diketahui oleh mereka yang mengetahui dari kalangan orang yang berakal melalui pengalaman mereka.” (Zad Al-Ma’ad 4/232).

Dalam redaksi Muslim yang lain disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan kalian biarkan harta kalian berserakan, juga anak-anak kecil kalian jika matahari terbenam hingga gelapnya waktu Isya’, karena setan tengah bertebaran ketika matahari terbenam hingga gelapnya waktu isya’ “. (HR Muslim no. 2013).

Dalam penjelasan hadits Muslim (syarh Muslim 7/205), Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

“Hadits ini berisi banyak manfaat, berupa kebaikan dan adab (etika) yang menggabungkan antara maslahat dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjalani adab ini yang merupakan sebab keselamatan dari gangguan setan. Allah Ta’ala menjadikan hal ini sebagai penyebab keselamatan dari setan sehingga ia tidak mampu membuka tutup wadah atau mengurai tutup tempat minum, tidak pula mampu membuka pintu, dan mengganggu anak-anak atau lainnya.”

Imam Ibnu Hubairah rahimahullah mengatakan,

“Jin itu terbagi menjadi jin mukmin yang aman siapa saja yang berjumpa dengannya. Ada pula jin yang ketika berjumpa dengannya, tidak bisa terhindar dari gangguannya, tidak bisa merasa aman karena mereka kafir, serta jika mengganggu anak-anak karena anak-anak belum sempurna akalnya sehingga terpengaruh oleh imajinasi yang buruk. Anak-anak juga belum (belum bisa membaca) nama-nama Allah yang bisa membentengi dari gangguan setan, maka orang tua diperintahkan untuk menahan dan mengumpulkan anak-anak mereka.” (Al-Ifshah 8/253).

Kesimpulan dari hadits-hadits tersebut di atas:

  1. Menahan anak-anak agar tidak keluar rumah ketika terbenamnya matahari. 
  2. Menutup semua pintu dengan membaca basmalah. 
  3. Menutup tempat minum dengan membaca basmalah. 
  4. Menutupi (menyelimuti) wadah dan tempat makanan, dengan berdzikir (membaca basmalah), sekalipun tidak menemukan tutup selain batang kayu. 
Hal ini dilakukan pada awal permulaan malam menurut hadits-hadits yang dipaparkan sebelumnya. Wallahu A’lam.
Sumber voa-islam.com

READ MORE - Jangan Biarkan Anak Keluar Rumah Ketika Maghrib

Memahami Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Sujud merupakan salah satu rukun dalam shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Namun sujud juga tidak baik jika asal dikerjakan. Karena dalam sujud itu terdapat nilai-nilai kerohanian yang sangat dalam. Dengan meletakkan kepala di bawah dan menempelkan kening dan hidung di atas tanah, dua lutut, dan telapak tangan serta ujung-ujung jarinya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah saw:


اُمِرْتُ اَنْ اَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ اَعْظُمٍ: عَلَى الْجَبْهَةِ، وَاَشَارَبِيَدِهِ عَلَى اَنْفِهِ، والْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَاَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

Aku disuruh bersujud pada tujuh tulang pada kening seraya menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan ujung-ujung kaku.


Keterangan tentang posisi fisik di atas hendaknya tidak haya dilaksanakan tetapi juga diresapi. Karena sesungguhnya rambu-rambu itu mengandung hikmah yang bila dilaksanakan dapat membantu seorang lebih khusyu’ dan ihlash dalam shalat. Jika demikian, wajar kalau Rasulullah saw kana menemani sahabatnya yang banyak bersujud

عن ربيعة بن كعب الأسلمى رضى الله عنه قال كنت أبيت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتيه بوضوئه وحاجته فقال سلنى فقلت أسألك مرافقتك في الجنة. فقال : أوغير ذلك . قلت : هو ذاك . فقال أوغير ذلك . قلت : هو ذاك قال فأعني على نفسك بكثرة السجود

Dari Rabiah bin Ka’ab r.a, ia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah SAW kemudian aku membawa kepadanya air untuk beliau berwudhu dan buang hajat, lalu beliau bersabda: “Mintalah dariku”, aku berkata: “Aku meminta menjadi pendampingmu di syurga”, ia bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Aku hanya meminta menjadi pendampingmu di syurga”, Rasulullah SAW bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Itu permintaanku”, ia bersabda: “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu dengan banyak engkau bersujud (shalat)”. HR. Muslim 1

Secara fisik kondisi sujud memang menunjukkan sebuah penghambaan total. Bagaimana posisi itu begitu sangat rendahnya. Namun dibalik kepasrahan dan kerendahan itu sesungguhnya Allah swt akan meninggikan derajatnya. Sebagaimana diterangkan

عن ثوبات رضى الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول عليك بكثرة السجود لله فإنك لا تسجد لله سجدة إلا رفعك الله بها درجة وحط عنك بها خطيئة قال معدان ثم لقيت أبا الدرداء فسألته فقال لي مثل ما قال لي ثوبان

Dari Tsauban r.a ia berkata: “Aku mendegar Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah bersujud sesungguhnya engkau tidak melakukan satu sujudpun karena Allah, melainkan Allah mengangkatkan engkau dengan sujud tersebut satu derajat dan Allah menghapuskan darimu satu kesalahan”. HR. Muslim 

Dan yang paling hakiki dari sujud adalah merasakan kedekatan antara seorang hamba dan tuhannya. Pada saat sujud itu bisa dengan mudah seorang hamba menitikkan air mata, atau merasa intim dengan Allah swt. Begitu yang diajarkan Rasulullah saw dalam haditsnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ“أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ. فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ”

Hadits riwayat Abi Hurairah Radhiyallahu’anhu, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Paling dekatnya seorang hamba dengan tuhannya ialah ketika dia bersujud. Maka perbanyaklah berdo’a”

READ MORE - Memahami Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Misteri Teror Hantu Bermata Satu di Gabus Bekasi

Percaya atau tidak, dua kampung di Gabus, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi mendadak ramai sebulan belakangan lantaran adanya kabar penampakan sesosok makhluk supranatural (gaib) dan sudah mengganggu ketenangan masyarakat di sana.

Diungkap warga setempat, Hasan, makhluk gaib itu dikenal sebagai hantu bermata satu. Ia berbadan besar dan memiliki gigi bertaring. Hantu inipun, kerap menyasar korban secara acak.

“Kejadianya sejak lebaran haji ini bang, ada dua desa yang kini mencekam. Kampung Srijaya dan Kampung Srimukti, di Gabus bang. Dua desa ini bertentangga. Namanya setan mata satu. Di jidatnya cuma ada satu mata, dan asal ketemu orang dia baru bercaling,” kata Hasan, yang juga petugas lingkungan setempat.

Misteri Teror Hantu Bermata Satu di Gabus Bekasi
Misteri Teror Hantu Bermata Satu di Gabus Bekasi

Dia menambahkan, jika hantu ini jelas telah membuat resah warga. Pasalnya, setiap menampakkan diri, ada saja warganya yang tewas mendadak tanpa sebab.

“Sejak bulan haji ini, sudah ada lima orang yang mati bang. Mati gak sakit, gak ada apa apa. Awalnya, kita kira angin duduk. Tapi kok lima limanya, ngeluarin busa di mulut, kaya ayan. Korban nya pun, gak cowok gak cewek bang,” jelasnya.

Warga pun menduga, jika hantu tersebut berasal dari ulah pesugihan.

“Kita sebenernya gak mau nuduh bang, karena gak ada bukti. Tapi kata orang pinter disini, ini hantu dapat pitua untuk cari tumbal bang. Nah, gak tau dah, motifnya apa. Sebab, dia nongol ada aja orang tewas, kalau uang atau harta benda mah gak ada yang hilang,” ucapnya.

Atas hal tersebut, sejumlah warga di dua kampung tersebut kini terus melakukan patroli lingkungan di malam hari. Sejumlah alat seperti, bambu kuning dan daun kelor pun disiapkan untuk berjaga jaga mengusir makhluk gaib tersebut.

“Coba aja abang dateng di gang Nila, dari jam 7 sampe subuh kita ngeronda. Soalnya ini setan, nge-geret orang mulu. Pernah warga sini ditarik ke sawah, sadar-sadar badanya udah biru-biru. Malah ada perempuan namanya Iin, gak sakit dan baru kelar shalat, tiba tiba meninggal bang. Kita yang jaga malam ini resah bang,” pungkasnya. (br2)
Sumber : beritabekasi.co.id

READ MORE - Misteri Teror Hantu Bermata Satu di Gabus Bekasi

Allah SWT Suka dengan Hal Ganjil. Ini Alasannya


Ganjil adalah bilangan yang jika dibagi dua maka bersisa 1. Dan itu adalah hal yang Allah dan Rasulnya suka, alasan lain karena Allah SWT itu hanya 1 atau Mahaesa, tunggal.

Dalam sebuah hadist Rasullullah SAW bersabda: 

إنّ الله وتر يحبّ الوتر “

Sesungguhnya Allah SWT itu witir dan Dia mencintai yang witir (ganjil)’,” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “witir maknanya ganjil (lawan genap).

Allah itu witir, artinya Allah itu esa tidak ada sekutu yang serupa bagi-Nya. Sedangkan makna “Allah mencintai witir adalah bahwa Allah mengutamakan bilangan ganjil dalam beberapa amalan dan ketaatan.

Oleh karenanya, Allah menjadikan sholat itu 5 waktu, bersuci 3 kali, thowaf 7 kali, sa’i 7 kali, melontar jumroh 7 kali, hari tasyriq ada 3 hari, beristinjak(cebok) 3 kali, kain kafan disyariatkan 3 lapis, zakat pertanian (nishobnya) 5 wasaq, zakat perak 5 uqiyah, demikian juga nishob zakat unta dan lainnya.


Demikian juga Allah jadikan beberapa makhluk-Nya yang besar berjumlah witir, seperti langit, bumi, lautan, hari-hari (dalam sepekan) dan lainnya. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa makna witir disini adalah tertuju kepada sifat hamba-Nya yang menyembah Allah dengan mengesakan dan mengikhlaskan kepada Allah saja. Wallahu a’lam.” (syarh shohih muslim: 9/39).

Dikatakan dalam hadist yang lain : Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda, (Dan Allah memiliki sembilan pulu sembilan nama seratus kurang satu, barang siapa menghitungnya (menghafal dan mentafakurinya) akan masuk surga. Dia itu witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil)’,” (HR Bukhari dan Muslim).

Aisyah ra. mengatakan : “Rasulullah SAW ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang artinya: (Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon)’,“ (HR Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya Allah itu witir (esa/ganjil) dan suka pada yang ganjil’,” (HR Abu Daud dan Turmudzi).

Dari keterangan di atas kita simpulkan: “witir yang dimaksud bukanlah berarti mencakup segala sesuatu secara umum, melainkan maksudnya adalah Allahlah yang menghukumi beberapa hukum syari’at dan ciptaanNya berjumlah witir, seperti sholat disyariatkan witir, langit berjumlah witir, dan sebagainya.

Allah yang menghukumi demikian bukan berarti segala sesuati disyariatkan supaya menjadi witir. Oleh karena itu seseorang tidak disyariatkan ketika berjalan untuk menghitung langkahnya supaya menjadi witir, ketika makan tidak disyariatkan menghitung suapan berjumlah witir, ketika minum tidak disyariatkan menghitung jumlahnya menjadi witir; karena tiak ada asalnya dan hal ini tidak disyariatkan. Bahkan mengkhususkan ibadah dengan pengkhususan yang tidak dikhususkan Allah dan Rasul-Nya adalah perbuatan bid’ah(mengada-ngada dalam hal agama).[aldi/kumpulankonsultasi]

READ MORE - Allah SWT Suka dengan Hal Ganjil. Ini Alasannya

Kajian Tentang Tradisi Jamuan di Majelis Tahlil

Di tengah masyarakat kita, selain ada tradisi pembacaan tahlil setelah kematian ada penjamuan dari pihak keluarga duka yang diberikan kepada para jamaah. Pada biasanya, penjamuan ini dengan menu ala kadarnya, seperti teh, kopi atau makanan ringan lainnya. Meskipun ada pula yang terlihat mewah manakala tahlilan yang diadakan oleh keluarga yang mampu secara ekonomi. Dalam sebuah Hadis disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk membuatkan makanan untuk keluarga Jakfar bin Abi Thalib karena mereka sibuk mengurusi jenazah Jakfar yang terbunuh di perang Muktah. Artinya, yang disunnahkan untuk memberi makanan dalah orangorang yang tidak berduka, bukan orang yang berduka. Nah, di sinilah akar masalahnya ketika terbalik, justru yang berduka memberi makanan. Tujuan menyediakan makanan oleh keluarga duka ini ada dua kemungkinan; untuk mengundang orang agar bertakziah atau dengan suka rela memberi makanan terhadap mereka yang memang berniatan takziah. Dua tujuan ini tentu berbeda hukumnya; jika saat menyediakan makanan bertujuan agar orang orang bertakziah maka hukumnya makruh; jika menyuguhi orangorang yang bertakziah dengan niatan sedekah, apa lagi ada niatan untuk menghadiahkan pahala sedekah untuk yang meninggal, tentu hukumnya lain.

Kajian Tentang Tradisi Jamuan di Majelis Tahlil

Syekh Abu Bakr Syaththa dalam kitab I’anah-nya mengatakan demikian, “Apa yang dibiasakan berupa penyediaan makanan oleh keluarga duka untuk mengundang orang-orang untuk mendatanginya, adalah bid’ah yang makruh sebagaimana mendatanginya mereka untuk hal itu. Sebab, ada Hadis sahih dari Jarir: “Kami menganggap pekumpulan di rumah duka dan membuat makanan setelah pemakaman adalah bagian dari ratapan.”

Menjelaskan perkataan ibn Jarir di atas, ash-Shan’ani dalam Subulus-Salam-nya mengatakan demikian, “Yang dimaksud dari Hadis sahabat Jarir ini adalah pembuatan makanan oleh keluarga duka untuk orang yang memakamkan di antara mereka (pentakziah) dan dia hadir di tengah-tengah mereka sebagaimana kebiasaan di suatu daerah. Adapun bermurah hati pada mereka dengan membawa makanan maka tidaklah mengapa.”

Juga menurut ash-Shan’ani, malasan mengapa pembuatan makanan bagi mereka tidak diinginkan karena di antara hal yang dilarang oleh Rasulullah adalah ‘al-Uqr; menyembelih hewan di atas kuburan setelah pemakaman. Rasulullah bersabda, “Tidak ada penyembelihan hewan di atas kuburan (‘Uqra) dalam Islam” (H.R. Imam Ahmad dan Abu Dawud). Al-Khaththabi menceritakan, di antara kebiasaan orang-orang Jahiliyah dulu adalah menyembelih unta di atas kuburan orang yang dermawan di antara mereka dan berkata, “Kami membalas atas apa yang ia telah lakukan, karena ia telah menyembelih unta di masa hidupnya dan memberi makan tamu-tamunya, dan kami menyembelih unta di atas kuburnya sampai hewan-hewan dan burung memakannya. Dengan begitu, ia tetap memberi makan setelah ia meninggal, sama seperti di masa hidupnya.” Sebab itulah, Rasulullah melarang praktik semacam itu.

Dari ulasan ini dapat disimpulkan bahwa pembuatan makanan oleh keluarga mayyit tidaklah dilarang, paling banter berhukum makruh jika dengan alasan seperti di atas, apa lagi ada niatan untuk menghadiahkan pahala sedekahnya untuk si mayyit tentu akan lebih bermanfaat dan boleh. Hanya saja yang perlu diperhatikan saat akan mengadakan selamatan seperti tahlilan, pembiayaan tidak boleh diambilkan dari harta warisan yang belum dibagi sesuai dengan hukum Islam. Apalagi, di Antara salah satu ahli waris terdapat anak yang masih belum baligh, atau yang tidak normal akalnya. Sebab, di dalam harta tersebut masih terdapat hak orang yang tidak dianggap tasharruf-nya (pembelanjaannya).

Hal tersebut apabila yang meninggal tidak berwasiat agar ia diselamati menggunakan hartanya. Jika demikian, biaya tahlilan dapat diambil dari harta peninggalannya, walaupun terdapat anak yang masih belum baligh atau tidak normal akalnya, dengan syarat, biaya yang dikeluarkan tidak melebihi sepertiga dari keseluruhan harta warisan.

Juga dalam lingkup membuat makanan bagi pen-takziah ini, dalam sebuah Hadis diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah bersama sahabat Anshar keluar ke pemakamanan seseorang. Beliau mengatakan kepada para penggali kuburan: “Perlebar di bagian dua kaki, perlebar di bagian kepala.” Ketika Nabi pulang dari pemakaman, datang utusan seorang perempuan (isteri dari orang yang meninggal) dan mempersilahkan beliau untuk datang ke rumahnya. Rasulullah datang, dan beliau disuguhi makanan. Nabi mengambilnya, kemudian sahabat-sahabat mengambil juga.

Saat itu, beliau juga disuguhi daging kambing yang lantas berkata, “Aku temukan daging kambing yang diambil tanpa ada izin dari pemiliknya.” Akhirnya, perempuan tersebut menjelaskan duduk masalahnya bahwa ia telah mengutus seseorang untuk pergi Baqi’, tempat penjualan kambing, dan memberikan uang untuk membeli kambing. Namun, utusan tersebut tidak menemukannya di sana. Kemudian diketahui, ada tetangganya yang telah membeli kambing, dan ia menyuruh utusannya tersebut untuk mendatangi rumahnya, tapi tidak ia temukan pemiliknya. Yang ada hanyalah isteri pemilik kambing yang kemudian sang utusan mengganti uang pembelian kambing kepada si isteri tanpa sepengetahuan suaminya. Mendengar itu, Rasulullah bersabda, “Kamu berikan kambing itu kepada para tawanan”. (H.R.Abu Dawud).

Meskipun Nabi tidak makan daging kambing suguhan perempuan tersebut, bukan berarti beliau mengingkari suguhan dari keluarga duka. Kenyataannya, beliau sudi datang dan makan. Konteks persoalan dalam keengganan Nabi tersebut terkait dengan penghindaran Nabi dari makanan yang bernilai syubhat, tidak jelas kehalalannya. Seperti inilah yang dijelaskan oleh ‘Abdul Muhsin al-’Ubbad, dalam Syarh Sunan Abu Dawud. Wallahua’lam. ( Penulis: M. Masyhuri Mochtar di sodogiri.net )

READ MORE - Kajian Tentang Tradisi Jamuan di Majelis Tahlil

Hukum Melepas Tali Pocong / Kafan

Betul kalau orang wafat melepaskan segalanya. Memang bukan ia sendiri yang menanggalkannya. Tetapi pihak keluarga perlu mencopot segala yang melekat pada tubuh jenazah mulai dari pakaian luar-dalam, sepatu, dasi, juga ikatan gesper, bermerk atau tidak, belanja di pasar swalayan atau loakan. Pokoknya dicopot. Pertama, memudahkannya untuk mandi jenazah.

Kedua, moga-moga saja calon ahli kubur ini dilonggarkan dari segala kesulitan. Selain pakaian, perlu juga melepas apa saja yang menggantung, tersemat, atau melingkar seperti kalung, cincin, gelang, atau anting termasuk tali ikat kain kafan.

Hukum Melepas Tali Pocong / Kafan

Bolehlah kita amati keterangan Syekh Romli dalam Nihayatul Muhtaj.

فإذا وضع الميت في قبره نزع الشداد عنه تفاؤلا تحل الشدائد عنه، ولأنه يكره أن يكون معه في القبر شيء معقود وسواء في جميع ذلك الصغير والكبير

Bila mayit sudah diletakkan di kubur, maka dilepaslah segenap ikatan dari tubuhnya berharap nasib baik yang membebaskannya dari kesulitan di alam Barzakh. Karenanya, makruh hukumnya bila mana ada sesuatu yang mengikat bagian tubuh jenazah baik jenazah anak-anak maupun jenazah dewasa.

Terus buat apa melepas ikat tali kafan jenazah anak kecil. Dia kan belum punya dosa? Syekh Ali Syibromalisi dalam Hasyiyah atas Nihayah menyebutkan, mencopot segala ikatan dari tubuh memang tidak mesti bertujuan melonggarkannya dari siksaan dosanya. Tetapi juga untuk perlu untuk menambah kesejahteraannya di kubur.

لايقال: العلة منتفية في حق الصغير لأنا نقول التفاؤل بزيادة الراحة له بعد فنزل ما انتفى عنه من عدم الراحة منزلة رفع الشدة

Kendati demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa illat melepas tali pengikat jenazah sudah tidak berlaku pada jenazah anak kecil mengingat ia belum punya dosa yang menyusahkannya di alam kubur. Pasalnya, kita bisa berkata bahwa “berharap nasib baik” dimaknai sebagai tambahan kebahagiaan bagi jenazah si kecil, satu tingkat di atas pembebasan dari kesulitan kubur. Karena, illat tiada kebahagiaan yang hilang dari jenazah itu, menempati pembebasannya dari kesulitan.

Artinya, ini juga berlaku untuk orang-orang suci tanpa dosa untuk menambah hiburan-hiburan yang membahagiakan dan meramaikan kuburnya yang sepi.

Sementara perihal roh jenazah yang bergentayangan mengganggu orang-orang hidup untuk meminta dilepaskan tali kafannya? Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

READ MORE - Hukum Melepas Tali Pocong / Kafan

Kampung Gabus Singkil Daerah Terasing Yang Diasingkan Di Bekasi Jawa Barat

Kampung Gabus Singkil Daerah Terasing Yang Diasingkan Di Bekasi Jawa Barat - Warga Kampung Gabus Singkil, Desa Srijaya, Kecamatan Tambun Utara, pertanyakan janji Bupati Bekasi untuk benahi Kabupaten Bekasi . Pasalnya, disaat beberapa daerah wilayah perbatasan Ibu Kota Jakarta terus melakukan pembenahan infrastruktur, akan tetapi masih banyak jalan-jalan yang belum tersentuh pembangunan dan perbaikan. Bahkan di kampung tersebut masih ada jalan yang mirip kubangan kerbau.

Lantaran kecewa terhadap janji Bupati Bekasi , akhirnya warga Desa Srijaya , Gabus Singkil, Dusun 1 pun menanami pohon pisang di jalan utama yang dalam kondisi rusak berat diwilayah tersebut.

Tiap Tahun Usulkan Perbaikan, Jalan Gabus Singkil Malah Jadi ‘Kebun Pisang’

Warga Kampung Gabus Singkil Adalah Daerah Terasing Yang Ada di Bekasi Jawa Barat
Kondisi Jalan Utama di Kampung Gabus Singkil, Desa Srijaya, Tambun Utara yang rusak parah meski tiap tahun sudah diusulkan perbaikan. Warga yang geram akhirnya menanam pohon pisang di jalan tersebut.

“Jalan sepanjang 1,5 Km yang ada di kampong kami sudah rusak parah dan tidak pernah tersentuh pembangunan. Ya, terpaksa kami bangun dengan tanam pohon pisang, biar danta. Habis mentang-mentang ada dipinggiran Bekasi, kita hanya selalu dikasih janji omong doang (Omdo),”jelas Rohman, selaku warga Kampung Gabus Singkil, Desa Srijaya.

Dijelaskan Rohman, terkait persoalan kondisi infrastruktur jalan yang banyak mengalami kerusakan dan belum tersentuh pembangunan diwilayahnya. Sebenarnya warga sudah berkali-kali mengusulkan perbaikan dan pembangunan dalam setiap kesempatan kepada Pemkab Bekasi seperti dalam kegiatan jarring aspirasi di Musyawaran Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun, sampai saat ini jalan di Kampung Gabus Singkil tidak mendapatkan perhatian sama sekali.”Kalau ngusulin sih hampir tiap tahun, tapi realisasinya tidak ada. Ya kami sih bertanya-tanya kepada wakil rakyat, khususnya dapil kami serta Bupati Bekasi, apakah mereka pada melek?,”Tanyanya.

Menanggapi adanya jalan yang mirip kubangan kerbau, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jaringan Masyarakan Peduli Demokrasi (JMPD) Kabupaten Bekasi, Madrawi sangat sedih. Pasalnya, menurut Madrawi, jalan yang mirip kubangan kerbau tersebut sering dilintasi kendaraan roda dua dan anak-anak yang hendak pergi kesekolah.

“Saya Khawatir dengan kondisi jalan licin dan berlubang akan menimbulkan bahaya. Apalagi anak-anak yang pergi kesekolah harus membuka sepatunya jika mereka melintasi jalan Kampung Gabus Singkil. Nah, kalau wakil rakyat dan Bupati pada melek, tolong dong benahi jalan yang sudah rusak. Jangan sampai slogan Bupati saat kampanye jadi Omdo (Omong Doang),”kata Madrawi.(DEE / bekasiekspresnews.co.id)

READ MORE - Kampung Gabus Singkil Daerah Terasing Yang Diasingkan Di Bekasi Jawa Barat

Jangan Biarkan Anak Keluar Rumah Waktu Maghrib

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika malam telah turun – atau ketika sore menjelang malam – maka tahanlah anak-anak kamu (jangan sampai keluar rumah) karena setan-setan tengah menyebar di saat itu. Setelah berlangsung beberapa saat lamanya, biarkan mereka bermain. Tutuplah semua pintu, bacalah nama Allah, karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup. Tutupi tempat minum kalian dengan menyebut nama Allah, sekalipun hanya dengan menaruh sesuatu di atasnya.”

Dalam redaksi lain,

“Jika kalian tidak menemukan tutup selain menaruh sebatang kayu di atas wadah kalian, maka lakukanlah dengan menyebut nama Allah.”

Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3280, Muslim no. 2012, Abu Dawud no. 3733 dengan sedikit perbedaan serta dari Tirmidzi no. 1812 dan Ibnu Majah no. 3410 tanpa ada syahid (penguat) dalam riwayat keduanya.

Jangan Biarkan Anak Keluar Rumah Waktu Maghrib

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dalam hal memasang (meletakkan) sebatang kayu di atas perabotan dapur terdapat hikmah, yaitu jangan sampai lupa menutupinya sekalipun hanya dengan sebatang kayu. Dalam hadits ini juga terdapat faedah bahwa barangkali akan ada serangga yang jatuh ke atas makanan, ia bisa melewati kayu tersebut sehingga tidak jatuh ke makanan.” (Zad Al-Ma’ad 4/233).

Dalam riwayat Muslim dari shahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tutupilah wadah, selimuti tempat minum, karena dalam masa setahun ada satu malam yang turun di dalamnya satu wabah yang tidak melewati satu wadah yang tidak ditutup, atau tempat minum yang tidak ditutup, melainkan wabah tersebut akan masuk ke dalamnya.” (HR Muslim no. 2014).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ini termasuk perkara yang tidak bisa disentuh ilmu dan pengetahuan para dokter, masalah ini telah diketahui oleh mereka yang mengetahui dari kalangan orang yang berakal melalui pengalaman mereka.” (Zad Al-Ma’ad 4/232).

Dalam redaksi Muslim yang lain disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian biarkan harta kalian berserakan, juga anak-anak kecil kalian jika matahari terbenam hingga gelapnya waktu Isya’, karena setan tengah bertebaran ketika matahari terbenam hingga gelapnya waktu isya’ “. (HR Muslim no. 2013).

Dalam penjelasan hadits Muslim (syarh Muslim 7/205), Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini berisi banyak manfaat, berupa kebaikan dan adab (etika) yang menggabungkan antara maslahat dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjalani adab ini yang merupakan sebab keselamatan dari gangguan setan. Allah Ta’ala menjadikan hal ini sebagai penyebab keselamatan dari setan sehingga ia tidak mampu membuka tutup wadah atau mengurai tutup tempat minum, tidak pula mampu membuka pintu, dan mengganggu anak-anak atau lainnya.”

Imam Ibnu Hubairah rahimahullah mengatakan, “Jin itu terbagi menjadi jin mukmin yang aman siapa saja yang berjumpa dengannya. Ada pula jin yang ketika berjumpa dengannya, tidak bisa terhindar dari gangguannya, tidak bisa merasa aman karena mereka kafir, serta jika mengganggu anak-anak karena anak-anak belum sempurna akalnya sehingga terpengaruh oleh imajinasi yang buruk. Anak-anak juga belum (belum bisa membaca) nama-nama Allah yang bisa membentengi dari gangguan setan, maka orang tua diperintahkan untuk menahan dan mengumpulkan anak-anak mereka.” (Al-Ifshah 8/253).

Kesimpulan dari hadits-hadits tersebut di atas:
  1. Menahan anak-anak agar tidak keluar rumah ketika terbenamnya matahari.
  2. Menutup semua pintu dengan membaca basmalah.
  3. Menutup tempat minum dengan membaca basmalah.
  4. Menutupi (menyelimuti) wadah dan tempat makanan, dengan berdzikir  (membaca basmalah), sekalipun tidak menemukan tutup selain batang kayu.
Hal ini dilakukan pada awal permulaan malam menurut hadits-hadits yang dipaparkan sebelumnya. Wallahu A’lam.  
oleh : cahyo priyasmoro di voa-islam.com

READ MORE - Jangan Biarkan Anak Keluar Rumah Waktu Maghrib

Inilah Tiga Tips Sederhana Redakan Konflik Suami-Istri

Kehidupan berkeluarga tidak selalu mulus, konflik-konflik menjadi niscaya lantaran perbedaan sifat dan latar belakang yang dibawa oleh masing-masing suami dan istri. Melalui laman facebooknya, Ustadz Cahyadi Takariawan berbagi solusi yang insya Allah jitu mengurai dan meredakan konflik yang mungkin terjadi antara kita dan pasangan tercinta kita. Selamat menyimak..

Dalam setiap sesi pelatihan Wonderful Family, saya selalu mengajari suami dan isteri untuk bersikap tenang dalam menghadapi permasalahan keluarga, dan menjauhi sikap emosional. Sikap emosi semakin memperkeruh suasana. Masalah yang semula kecil bisa menjadi bertambah besar karena sikap yang tidak tepat.

Saya juga selalu melatih suami dan isteri untuk memiliki kemampuan memaafkan kesalahan pasangan, karena semua orang pernah melakukan kesalahan. Namun permaafan ini tidak boleh disalahgunakan, dengan mengulang-ulang kesalahan karena yakin akan dimaafkan pasangan.


Dan yang lebih penting lagi adalah melatih suami dan isteri untuk selalu fokus melihat ke depan. Jangan terfokus melihat apa yang telah terlanjur terjadi, namun lihatlah masa depan keluarga. Anak-anak harus dididik dengan baik dan tidak boleh menjadi korban emosi orang tua. Anak-anak memerlukan orang tua yang lengkap, ada ayah dan ibu yang membersamai tumbuh kembang mereka. 

Semoga keluarga kita selalu bahagia dalam ridha-Nya. Aamiin…(esqiel/muslimahzone.com)

READ MORE - Inilah Tiga Tips Sederhana Redakan Konflik Suami-Istri

Hukum Menanam Ari-Ari Bayi

Di antara tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat sehubungan dengan kelahiran seorang anak adalah menanam ari-ari (masyimah) bayi di depan atau di dalam rumah. Penanaman ini dilakukan dengan berbagai cara. Diantara cara yang masyhur adalah menanam dan sekaligus memberikan penerangan.

Bahkan di daerah tertentu penanaman ari-ari ini disertai pula dengan menaburkan bunga di atasnya. Atau malahan dengan menyertakan berbagai makanan atau sesajen di dalamnya.

Pada hakikatnya penanaman ari-ari ini dibenarkan dalam Islam bahkan disunnahkan. Akan tetapi menyertakan berbagai benda yang bernilai dianggap tidak baik. Karena termasuk dalam kategori tabdzir (menghamburkan).

Hukum Menanam Ari-Ari Bayi

Mengenai hukum sunnah mengubur ari-ari terdapat keterangan dalam kitab Nihayatul Muhtaj 

وَيُسَنُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالاًّ أَوْ مِمَّنْ شَكَّ فِي مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ ، وَدَمِ نَحْوِ فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا. 

“Dan disunnahkan mengubur anggota badan yang terpisah dari orang yang masih hidup dan tidak akan segera mati, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, ‘alaqah (gumpalan darah), dan darah akibat goresan, demi menghormati orangnya”.

Adapun tentang haramnya tabdzir sehubungan dengan menyetakan segala benda di lingkungan kubur ari-ari terdapat dalam Hasyiyatul Bajuri:


(المُبَذِّرُ لِمَالِهِ) أَيْ بِصَرْفِهِ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ (قَوْلُهُ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ) وَهُوَ كُلُّ مَا لاَ يَعُوْدُ نَفْعُهُ إِلَيْهِ لاَ عَاجِلاً وَلاَ آجِلاً فَيَشْمَلُ الوُجُوْهَ المُحَرَّمَةَ وَالمَكْرُوْهَةَ.

“(Orang yang berbuat tabdzir kepada hartanya) ialah yang menggunakannya di luar kewajarannya. (Yang dimaksud: di luar kewajarannya) ialah segala sesuatu yang tidak berguna baginya, baik sekarang (di dunia) maupun kelak (di akhirat), meliputi segala hal yang haram dan yang makruh”.

Demikian keterangan ini diambil dari buku Ahkamul Fuqaha’ Solusi Problematika Umat yang memuat hasil keputusan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama dari 1926-2010. (nu.or.id)

READ MORE - Hukum Menanam Ari-Ari Bayi

← Previous Page

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Google+ Followers


widget
Push 2 Check

Random Posts

Membagun Kecerdasan Lingkungan Berbasis Spiritual. Diberdayakan oleh Blogger.