Tampilkan postingan dengan label Kesepakatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesepakatan. Tampilkan semua postingan

Pengertian Syarat Dalam Jual Beli

Syarat dalam jual beli adalah syarat yang disepakati oleh kedua pihak yang sedang melakukan akad jual beli, seperti sang pembeli mensyaratkan bahwa pembayarannya dicicil dan penjual meminta jaminan tertentu dari pembeli, atau si pembeli meminta untuk meminta waktu tiga hari untuk mempertimbangkan pembelian barang tertentu.

Perbedaan antara istilah: “Syarat dalam jual beli” dan “Syarat jual beli.”

Ada beberapa perbedaan antara dua istilah tersebut, diantaranya adalah :

Pertama: Syarat jual beli ditentukan oleh syariat Islam. Sedangkan syarat dalam jual beli yang menentukan adalah salah satu dari dua pihak yang melakukan transaksi.

Kedua: Syarat jual beli merupakan syarat sahnya suatu akad, berbeda dengan syarat dalam jual beli yang bukan merupakan syarat sahnya suatu akad tetapi hanya syarat yang mewajibkan salah satu dari dua pihak yang bertransaksi.

Ketiga: Syarat jual beli tidak bisa digugurkan, sedangkan syarat dalam jual beli bisa digugurkan menurut kesepakatan kedua belah pihak.

Keempat: Syarat jual beli semuanya benar dan berlaku, karena berasal dari syariah, berbeda dengan syarat dalam jual beli, yang sebagiannya sah dan sebagian lainnya tidak sah serta tidak berlaku, karena yang meletakkan adalah manusia yang bisa benar dan salah.(Ibnu al-Utsaimin, asy-Syarhu al-Mumti’ : 3/ 485 )

Macam-macam Syarat Dalam Jual Beli

Syarat dalam jual beli dibagi menjadi dua : Syarat yang sah dan syarat yang batil

Macam Pertama: Syarat Yang Sah

Al-Mardawaih di dalam Al-Inshof ( 4/ 245) membagi syarat dalam jual beli yang sah menjadi tiga macam :
  1. Syarat yang sesuai dengan tujuan jual beli, seperti mensyaratkan bahwa barang harus bisa diambil, dan pembayaran harus tunai.
  2. Syarat yang di dalamnya terdapat maslahat akad, seperti orang yang mensyaratkan untuk menjual barangnya dengan cara kredit, atau meminta jaminan dalam pembayarannya, atau pembeli mensyaratkan barangnya harus yang bagus.
  3. Syarat tertentu yang bermanfaat bagi penjual atau pembeli, seperti seseorang menjual rumah dengan syarat ditempati terlebih dahulu selama sebulan. (lihat juga al-Bahuti dalam ar-Raudh al-Murabi’: 1/215)
Dalil kebolehan syarat-syarat di atas adalah hadist Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

بِعْنِيهِ بِأوقِيَّةٍ ، قُلْتُ: لَا، ثُمَّ قَالَ: بِعْنِيهِ فَبِعْتُهُ بأِوقِيَّةٍ, وَاشْتَرَطْتُ حُمْلَانَهُ إِلَى أَهْلِي

"Juallah untamu padaku dengan satu uqiyyah.” Aku berkata: ” Tidak”. Beliau bersabda lagi: “Juallah ia padaku”. Lalu aku menjualnya dengan satu uqiyyah, namun aku memberikan syarat agar unta itu membawa barang-barang yang di atasnya dahulu pada keluargaku. (HR. Bukhari dan Muslim)

Macam Kedua: Syarat Yang Batil

Syarat yang batil ini dibagi pula menjadi tiga macam :

Pertama: Syarat yang bertentangan dengan tujuan akad jual beli, seperti mensyaratkan adanya akad lain (sewa-penyewa atau akad utang piutang) dalam akad jual beli. Sebagai contoh, seseorang berkata : “Saya menjual rumah kepadamu dengan harga sekian tapi syaratnya kamu harus membeli mobil saya dengan harga sekian.”

Kedua: Syarat yang bertentangan dengan tujuan jual beli, tetapi tidak membatalkan akad, seperti seseorang yang menjual suatu barang dengan mensyaratkan agar tidak rugi dalam jual belinya, atau seseorang yang menjual mobil tetapi mensyaratkan kepada pembelinya agar tidak menjualnya atau memberikannya kepada orang lain.

Syarat-syarat di atas bertentangan dengan tujuan jual beli, karena seseorang yang sudah membeli barang dari orang lain, maka dia berhak memperlakukan barang tersebut sesuai dengan kehendaknya. Kalau hal itu disyaratkan oleh penjual, maka syarat itu adalah syarat yang batil.

Ini berdasarkan hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ , وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ

"Setiap syarat yang tidak terdapat di dalam Kitab Allah adalah batil, walaupun seratus syarat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga: Mensyaratkan jual beli dengan sesuatu yang belum terjadi. Syarat seperti ini batil dan jual belinya juga batil dan tidak sah. Seperti penjual mobil berkata : ” Saya jual mobil ini kepadamu jika bapak saya rela, atau saya jual mobil ini, jika saya pergi ke luar kota.”

Hukum Akad dalam Akad Lain

Para ulama sepakat bahwa tidak boleh seseorang membuat akad jual beli yang disyaratkan didalamnya pinjaman, atau sebaliknya tidak boleh meminjamkan sesuatu kepada orang lain dengan mensyaratkan adanya jual beli.

Larangan ini berdasarkan hadist Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ تَضْمَنْ وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

:Tidak halal menjual sesuatu dengan syarat memberikan hutang, dan tidak halal dua syarat dalam satu transaksi, dan tidak halal keuntungan menjual sesuatu yang belum engkau jamin, serta tidak halal menjual sesuatu yang bukan milikmu.”

(Berkata Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram (232) : Hadist diriwayatkan oleh al-Khomsah, dan disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Huzaimah serta Hakim )

Tetapi para ulama berbeda pendapat tentang syarat akad dalam akad selain jual beli yang disyaratkan pinjaman di dalamnya:

Pendapat Pertama: Tidak boleh sama sekali mensyaratkan suatu akad dalam akad lain. Ini pendapat mayorita ulama.

Tetapi mereka sendiri masih berbeda pendapat apakah syarat yang batil, akan mempengaruhi keabsahan akad?

Syekh Al-Bahuti salah satu ulama al-Hanabilah berpendapat bahwa jika syaratnya batil, maka akadnya secara otomatis juga batil.

Sedangkan riwayat lain dari madzhab Hanabilah mengatakan bahwa walaupun syaratnya batil, tetapi akadnya tetap sah, artinya syarat yang batil tidak mempengaruhi keabsahan suatu akad. Disini mereka membedakan antara akad dan syarat.

Dalilnya adalah hadist Barirah, ketika Aisyah ingin memerdekakan Barirah dari perbudakan dengan tebusan sejumlah uang, majikan Barirah tidak mengijinkannya, kecuali dengan syarat bahwa wala’nya untuk mereka. Syarat ini adalah batil, yang benar bahwa wala’nya untuk yang memerdekakannya, yaitu untuk Aisyah.

Karena mereka memaksakan syarat yang batil tersebut, maka Rasulullah menyarankan kepada Aisyah untuk menyetujui syarat yang batil tersebut, tetapi nantinya tidak dianggap, dan akadnya tetap sah. Beliau bersabda :

خُذِيهَا وَاشْتَرِطِي لَهُمُ اَلْوَلَاءَ, فَإِنَّمَا اَلْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ , فَفَعَلَتْ عَائِشَةُ

"Ambillah dan berilah persyaratan wala’ itu kepada mereka, sebab wala’ itu hanya bagi orang yang memerdekakan.” Lalu Aisyah melakukan hal itu. (HR. Bukhari dan Muslim )

Pendapat kedua: Tidak boleh berkumpul tujuh akad lain dengan akad jual beli yang teringkas dalam kata: Jusho Musyniq (Ju’alah, Shorof, Musaqoh, Syirkah, Nikah, dan Qiradh).

Pendapat Ketiga: Dibolehkan mensyaratkan adanya akad dalam akad selama tidak menyebabkan adanya riba’ dan penipuan. Ini pendapat Malikiyah, Ibnu al-Arabi, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim.

Mereka beralasan bahwa pada asalnya suatu akad dan persyaratan adalah hal yang dibolehkan, kecuali apa yang telah diharamkan dalam syariat. Ini berdasarkan keumuman firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

"Wahai orang-orang beriman tunaikanlah janji-janjimu.” (QS. al-Maidah : 1)

Wallahu A’lam…

(Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA Direktur Pesantren Tinggi Al-Islam, Pondok Gede, Bekasi di ahmadzain.com)

READ MORE - Pengertian Syarat Dalam Jual Beli

Piagam Madinah

صحيفة المدينة
(Piagam Madinah)

بسم الله الرحمن الرحيم
هذا كتاب من محمد النبي صلىالله عليه وسلم بين المؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب ومن تبعهم فلحق بهم وجاهد معهم.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah SAW, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal dari) Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.

١. انهم امة واحدة من دون الناس.
Pasal 1
Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komuitas) manusia lain.

٢. المهاجرون من قر يش على ربعتهم يتعاقلون بينهم اخذالدية واعطائها وهم يفدون عانيهم بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 2
Kaum muhajirin dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.

٣. وبنوعوف على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 3
Banu Auf sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

٤. وبنوساعدة علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 4
Banu Sa’idah sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

٥. وبنو الحرث على ربعتهم يتعاقلون الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 5
Banu Al-Hars sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

٦. وبنوجشم علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 6
Banu Jusyam sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

٧. وبنو النجار علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 7
Banu An-Najjar sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

٨. وبنو عمرو بن عوف علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 8
Banu ‘Amr bin ‘Awf sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

٩. وبنو النبيت علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 9
Banu Al-Nabit sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

١٠. وبنو الاوس علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 10
Banu Al-‘Aws sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

١١. وان المؤمنين لايتركون مفرجا بينهم ان يعطوه بالمعروف فى فداء اوعقل.
Pasal 11
Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang yang berat menanggung utang diantara mereka tetapi membantunya dengan baik dalam poembayaran tebusan atau diat.

١٢. ولا يحالـف مؤمن مولى مؤمن دونه.
Pasal 12
Seorang mukmin tidak diperbolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya tanpa persetujuan dari padanya.

١٣. وان المؤمنين المتقين على من بغى منهم او ابتغى د سيعة ظلم اة اثم اوعدوان او فساد بين المؤمنين وان ايديهم عليه جميعا ولو كان ولد احدهم.
Pasal 13
Orang-orang mukmin yang taqwa harus menentang orangyang diantara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara zalim , jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.

١٤. ولا يقتل مؤمن مؤمنا فى كافر ولا ينصر كافرا على مؤمن.
Pasal 14
Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran membunuh orang kafir. Tidak boleh pula orang beriman membantu orang kafir untuk (membunuh) orang beriman.

١٥. وان ذمة الله واحدة يحيد عليهم اد ناهم وان المؤمنين يعضهم موالي بعض دون الناس.
Pasal 15
Jaminan Allah satu. Jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu, tidak bergantung kepada golongan lain.

١٦. وانه من تبعنا من يهود فان له النصر والاسوة غير مظلومين ولا متناصر عليهم.
Pasal 16
Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang olehnya.

١٧. وان سلم المؤمنين واحدة لا يسالم مؤمن دون مؤمن في قتال في سبيل الله الا على سواء وعدل بينهم.
Pasal 17
Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.

١٨. وان كل غازية غزت معنا يعقب بعضها بعضا.
Pasal 18
Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu membahu satu sama lain.

١٩. وان المؤمنين يبئ بعضهم على بعض بـمانال دماءهم فىسبيل الله وان المؤمنين والمتقين على احسن هدى واقومه.
Pasal 19
Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertakwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.

٢٠. وانه لايجير مشرك مالا لقر يش ولانفسا ولايحول دونه على مؤمن.
Pasal 20
Orang musyrik (Yatsrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh bercampur tangan melawan orang beriman.

٢١. وانه من اعتبط مؤمنا قتلا عن بينة فانه قودبه الا ان يرضى ولي المقتول وان المؤمنين عليه كافة ولايحل لهم الاقيام عليه.
Pasal 21
Barang siapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.

٢٢. وانه لا يحل لمؤمن أقر بما فى هذه الصحيفة وآمن بالله واليوم الآخر ان ينصر محدثا ولا يـؤوية وانه من نصره او آواه فان عليه لعنة الله وغضبه يوم القيامة ولايـؤخذ منه صرف ولاعدل.
Pasal 22
Tidak dibenarkan orang mukmin yang mengakui piagam ini, percaya pada Allah dan Hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan dan menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dari Allah pada hari kiamat, dan tidak diterima dari padanya penyesalan dan tebusan.

٢٣. وانكم مهما اختلفتم فيه من شيئ فان مرده الى الله عزوجل والى محمد صلى الله عليه وسلم
Pasal 23
Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah Azza Wa Jalla dan (keputusan) Muhammad SAW.

٢٤. وان اليهود ينفقون مع المؤمنين ماد اموا محاربين
Pasal 24
Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.

٢٥. وان يهود بني عوف امة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وانفسهم الا من ظلم واثم فانه لا يـوتخ الا نفسه واهل بيته.
Pasal 25
Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga.

٢٦. وان ليهود بنى النجار مثل ماليهود بنى عوف
Pasal 26
Kaum Yahudi Banu Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

٢٧. وان ليهود بنى الحرث مثل ماليهود بنى عوف
Pasal 27
Kaum Yahudi Banu Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

٢٨. وان ليهود بنى ساعدة مثل ماليهود بنى عوف
Pasal 28
Kaum Yahudi Banu Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

٢٩. وان ليهود بنى جشم مثل ماليهود بنى عوف
Pasal 29
Kaum Yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

٣٠. وان ليهود بنى الاوس مثل ماليهود بنى عوف
Pasal 30
Kaum Yahudi Banu Al-‘Aws diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

٣١. وان ليهود بنى ثعلبة مثل ماليهود بنى عوف الامن ظلم واثم فانه لا يوتخ الانفسه واهل بيته.
Pasal 31
Kaum Yahudi Banu Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

٣٢. وان جفنه بطن ثعلبه كأ نفسهم
Pasal 32
Kaum Yahudi Banu Jafnah dari Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

٣٣. وان لبنى الشطيبة مثل ماليهود بنى عوف وان البر دون الاثم
Pasal 33
Kaum Yahudi Banu Syutaibah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

٣٤. وان موالي ثعلبه كأنفسهم
Pasal 34
Sekutu-sekutu Sa’labah diperlakukan sama seperti mereka (Banu Sa’labah).

٣٥. وان بطانة يهود كأنفسهم
Pasal 35
Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi).

٣٦. وانه لا يخرج احدمنهم الا باذن محمد صلىالله عليه وسلم وانه لا ينحجرعلى ثار جرح وانه من فتك فبنفسه فتك واهل بيته الا من ظلم وان الله على ابرهذا.
Pasal 36
Tidak seorang pun dibenarkan (untuk berperang), kecuali seizin Muhammad SAW. Ia tidak boleh dihalangi (menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesunggunya Allah sangat membenarkan ketentuan ini.

٣٧. وان على اليهود نفقتهم وعلى المسلمين نفقتهم وان بينهم النصرعلى من حارب اهل هذه الصحيفة وان بينهم النصح والنصيحة والبر دون الاثم وانه لم يأثم امرؤ بـحليفه وان النصر للمظلوم.
Pasal 37
Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya dan bagi mauk muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan muslimin) bantu membantu dalam menghadapi musuh piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasehat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.

٣٨. وان اليهود ينفقون مع المؤمنين مادا موا محاربين.
Pasal 38
Kaum Yahudi memikul bersama mukiminin selama dalam peperangan.

٣٩. وان يثرب حرام جوفهالاهل هذه الصحيفة.
Pasal 39
Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya haram (suci) bagi warga piagam ini.

٤٠. وان الجار كالنفس غير مضار ولااثم.
Pasal 40
Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.

٤١. وانه لا تجارحرمة الا باذن اهلها
Pasal 41
Tidak boleh jaminan diberikan kecuali seizin ahlinya.

٤٢. وانه ما كان بين اهل هذه الصحيفة من حدث واشتجار يخاف فساده فان مرده الى الله عزوجل والى محمد صلىالله عليه وسلم وان الله على اتقى ما فى هذه الصحيفة وابره.
Pasal 42
Bila terjadi suatu persitiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah Azza Wa Jalla, dan (keputusan) Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi piagam ini.

٤٣. وانه لاتجار قريش ولا من نصرها
Pasal 43
Sungguh tidak ada perlindungan bagi Quraisy (Mekkah) dan juga bagi pendukung mereka.

٤٤. وان بينهم النصر على من دهم يثرب.
Pasal 44
Mereka (pendukung piagam) bahu membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib.

٤٥. واذا دعوا الى صلح يصالحونه (ويلبسونه) فانهم يصالحونه ويلبسونه وانهم اذا دعوا الى مثل ذلك فانه لهم علىالمؤمنين الا من حارب فى الدين على كل اناس حصتهم من جابنهم الذى قبلهم.
Pasal 45
Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksankan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.

٤٦. وان يهود الاوس مواليهم وانفسهم على مثل مالاهل هذه الصحيفة مع البر الحسن من اهل هذه الصحيفة وان البر دون الاثم.
Pasal 46
Kaum Yahudi Al-‘Aws, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (pengkhianatan). Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi piagam ini.

٤٧. ولا يكسب كاسب الاعلى نفسه وان الله على اصدق فى هذه الصحيفة وابره وانه لا يحول هذا الكتاب دون ظالم وآثم. وانه من خرج آمن ومن قعد آمن بالمدينة الا من ظلم واثم وان الله جار لمن بر واتقى ومحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم
Pasal 47
Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Dan Muhammad Rasulullah SAW

مقتطف من كتاب سيرة النبي ص.م. الجزء الـثانى ص 119-133 لابن هشام (أبى محمد عبد المـلك) المتوفى سنة 214 هـ.
Dikutip dari kitab Siratun-Nabiy saw., juz II, halaman 119-133, karya Ibnu Hisyam (Abu Muhammad Abdul malik) wafat tahun 214 H.

READ MORE - Piagam Madinah

Inilah Syarat Mutlak Calon Pemimpin Daerah

Inilah Syarat Mutlak Calon Pemimpin Daerah - Gubernur (wali) dan wakil gubernur adalah penguasa untuk sebuah wilayah (daerah). Keduanya adalah pejabat pemerintahan (hakim). Memilih mereka harus terikat dengan aturan Syariat, tidak boleh terlena dengan jargon "perubahan" semata.

Di dalam Islam, gubernur tidak dipilih oleh rakyat. Tetapi diangkat oleh kepala negara (khalifah). Imam al Mawardi dalam kitabnya, Al Ahkam As Sulthaniyah, membagi gubernur menjadi dua. Pertama, gubernur yang diangkat dengan kewenangan khusus (imarah 'ala as-shalat). Kedua, gubernur dengan kewenangan secara umum mencakup seluruh perkara (imarah ala as-shalat wal kharaj).

Menurut Al Mawardi, syarat untuk menjadi gubernur tidak jauh berbeda dengan syarat yang ditetapkan untuk menjadi wakil khalifah (muawin tafwidh). Sementara Muawin syaratnya sama dengan syarat menjadi Khalifah. Jadi secara umum syarat menjadi gubernur sama dengan syarat menjadi kepala negara.


http://suara-islam.com/images/berita/pilgub%20dki-calon-1.jpg



Perbedaannya hanya pada kekuasaan gubernur lebih sempit dibandingkan kekuasaan muawin tafwidh). Baik Gubernur Umum maupun Gubernur Khusus keduanya tidak boleh dijabat oleh orang kafir dan budak (bukan orang merdeka).

Menurut Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya, Nidhamul Hukmi fil Islam, setidaknya ada tujuh syarat yang harus dipenuhi oleh seorang calon gubernur.

Syarat yang pertama adalah harus laki-laki. Berdasarkan sabda Rasulullah saw yang menyatakan:

"Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan kekuasaan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita." (HR Bukhari)

Yang dimaksud dengan kata "Wallau" di dalam hadits ini adalah pemerintahan, dengan dalil adanya kata berikutnya, "Amrahum". Karena, kata "amrahum" kalau dirangkai dengan kata "walla" dan "wilayah", maka kata tersebut maknanya menjadi khas yaitu "al hukmu" (pemerintahan) dan "as sulthan" (kekuasaan).

Kedua, syaratnya harus merdeka (bukan budak). Karena kenyataannya, seorang budak tidak memiliki wewenang terhadap dirinya sendiri. Maka, bagaimana mungkin dia bisa menjadi penguasa atas orang lain atau menjadi hakim.

Ketiga, harus muslim, berdasarkan firman Allah SWT.:

"(Dan) Allah sekali-kali tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin." (Q.S. An Nisa': 141)

Keempat dan kelima, harus baligh dan berakal berdasarkan hadits Rasulullah saw.:

"Telah diangkat pena (tidak dibebankan hukum) dari tiga orang... atas anak kecil hingga dia baligh, serta orang gila hingga dia sembuh."

Orang yang diangkat pena darinya, berarti tidak terkena beban hukum (ghairu mukallaf). Maka dengan terangkatnya pena itu berarti terangkat pula hukum darinya. Sehingga, dia tidak boleh diserahi untuk melaksanakan pemerintahan atau kekuasaan.

Keenam, syaratnya harus adil. Karena Allah SWT mensyaratkan seseorang boleh menjadi saksi, apabila dia adil. Lebih-lebih kalau sifat adil tersebut dimiliki seorang pejabat (hakim). Adil adalah orang yang konsisten dalam menjalankan agamanya (bertakwa dan menjaga muru'ah). Jadi tidak sah orang fasik --apalagi kafir-- diangkat menjadi seorang gubernur, berdasarkan firman Allah SWT.:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila ada orang-orang fasik membawa berita kepada kalian, maka periksalah (berita tersebut)." (Q.S. Al Hujurat: 6)

Ayat ini memerintahkan agar memeriksa berita (informasi) orang fasik. Keputusan-keputusan seorang hakim (pimpinan) harus dipakai oleh rakyat tanpa harus diperiksa terlebih dahulu. Sehingga, kalau yang menjadi pejabat (hakim) tersebut termasuk orang yang keputusannya harus diperiksa terlebih dahulu, maka tidak boleh.

Ketujuh, syaratnya harus mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan yang diberikan kepadanya. Karena Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Dzar Al Ghifari ketika dia minta agar diberi jabatan pemerintahan, maka Rasulullah bersabda kepadanya:

"Aku melihatmu lemah." di dalam riwayat lain dikatakan: "Wahai Abu Dzar, aku tahu kamu itu lemah. Padahal, (jabatan tersebut) merupakan amanat."
Hal itu menjadi dalil, bahwa orang yang tidak mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tidak layak untuk menjadi wali.

Nabi saw senantiasa memilih para wali beliau dari kalangan orang-orang yang layak untuk memimpin suatu pemerintahan serta orang-orang yang memiliki keilmuan yang telah dikenal ketakwaannya. Beliau juga memilih mereka berdasarkan kriteria yang paling sempurna dalam menjalankan tugas-tugas yang diurusinya serta mereka yang paling mampu meningkatkan hati rakyat dengan iman dan kecintaan terhadap negara Islam.

Lalu, apakah syarat-syarat calon gubernur di atas juga bisa diimplementasikan untuk pemilihan gubernur di negara yang bukan Daulah Islam, seperti Indonesia sekarang?. Misalnya, pemilihan gubernur DKI Jakarta?. Jawabannya, jelas bisa.

Soal agama calon pemimpin, Allah Swt sendiri yang memperingatkan agar umat Islam tidak memilih pemimpin dari kalangan non-Islam. Hal itu tersirat dengan jelas dalam Surat Al Maidah ayat 51. Ayat ini berlaku umum, baik dalam kondisi negara menerapkan syariat Islam maupun tidak. Seorang Muslim juga wajib terikat dengan ayat ini ketika hendak memilih calon pemimpin.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Soal gender (jenis kelamin) calon pemimpin, misalnya, saat Rasulullah mengucapkan "Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan kekuasaan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita.", juga ketika beliau diberitahu bahwa Putri Kisra diangkat menjadi pemimpin di Persia. Tentu saja Persia saat itu bukan negara Islam.

Jadi tidak tepat jika ada yang mengatakan tujuh syarat di atas tidak berlaku untuk Indonesia. Panduan Islam untuk memilih pemimpin sesuai kritera Al Quran dan Sunnah tetap berlaku sepanjang massa, dalam kondisi apapun. Baik di dalam negara yang menerapkan syariat Islam maupun tidak. ( suara-islam.com )

READ MORE - Inilah Syarat Mutlak Calon Pemimpin Daerah

Aturan Pemilihan Ketua dan Perangkat Kepengurusan Rukun Tetangga ( RT )


Kesepakatan Warga RT 013 / RW 035
Desa/Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan,
Kabupaten Bekasi Jawa Barat
No : 001 / ……………………………………

Atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, Kami Warga RT 013 / RW 035 Desa/Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi melalui musyawarah dan rapat warga telah membuat suatu kesepakatan dan persetujuan tentang Aturan Pemilihan Ketua dan Perangkat Kepengurusan Rukun Tetangga  ( RT ) sebagai berikut :

A.    Latar Belakang :

1.   Terjadinya konflik vertikal dan horizontal antar warga
2.   Terjadinya penurunan paksa Ketua RT yang sedang menjabat
3.    Penolakan warga untuk dipilih sebagai penjabat Ketua RT
4.    Pengunduruan diri Ketua RT yang terpilih
5.   Terjadinya kekosongan kepemimpinan

B.    Tujuan :

1. Meningkatkan peran serta dan partisipasi aktif warga RT 013/RW 035 dalam aktivitas serta kegiatan sosial kemasyarakatan khususnya dalam lingkup RT 013 dan RW 035 secara umum
2.   Membuka dan memberikan kesempatan seluas – luasnya secara adil dan merata kepada seluruh warga dalam lingkungan RT 013/RW 035 dalam mengembangkan segenap potensi yang dimilkinya untuk mengemban amanah dan menjalankan roda kepemimpinan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan
3.  Menggali dan mengembangkan bibit – bibit kepemimpinan dari seluruh potensi dan sumber daya yang ada sebagai langkah awal kaderisasi kepemimpinan pada masa yang akan datang    

C.   Kesepakatan :

1. Seluruh warga berhak untuk memilih dan dipilih menjadi Ketua RT sesuai dengan tatacara pemilihan yang disepakati dalam rapat warga dengan tetap mempertimbangkan adat dan kebiasan setempat
2. Ketua RT yang terpilih, dalam memperlancar tugas dan tanggungjawabnya sebagai ketua RT berkewajiban untuk melengkapi  struktur kepengurusan RT dengan menunjuk dan mengangkat warga lainnya sebagai perangkat pelaksana tugas kepengurusan dengan tetap mempertimbangkan kemampuan dan kesanggupan warga yang ditunjuk secara objektif, serta memperhatikan dan mempertimbangkan saran dan opini dari warga lainnya jika diperlukan
3.  Ketua RT yang terpilih, tetap mejabat dan menjalankan tugas dan fungsinya sebagai Ketua RT sampai masa tugasnya berakhir sesuai dengan surat keputusan pengangkatan ketua RT oleh penjabat negara yang berwenang
4.    Sebelum masa tugasnya berakhir, Ketua RT yang terpilih wajib melaksanakan pemilihan ketua RT yang baru secara jujur dan adil sebagai pengganti dirinya dengan berpedoman kepada :

a.    Setiap Ketua RT yang sudah menjabat sebagai Ketua RT tidak berhak lagi untuk dipilih sekurang – kurangnya selama 2 ( dua ) kali periode kepengurusan

b.    Setiap perangkat kepengurusan RT yang sudah menjabat sebagai Ketua RT, Wakil Ketua RT ( kalau ada ), Sekretaris RT, Wakil Sekretaris RT ( kalau ada ), Bendahara RT, Wakil Bendahara RT ( kalau ada ) tidak berhak lagi untuk dipilih sebagai Ketua RT atau Perangkat kepengurusan RT sekurang – kurangnya selama 2 ( dua )  kali periode kepengurusan

5. Sebelum masa tugasnya berakhir, Ketua RT yang terpilih wajib membubarkan perangkat kepengurusan RT yang dibentuknya dan menyerahkan pelaksanaan tugas dan fungsi serta tanggung jawab yang melekat padanya kepada Ketua RT baru yang terpilih sesuai dengan kesepakatan dan aturan yang berlaku
6.   Apabila Ketua RT Yang terpilih meninggal dunia atau berhalangan tetap dan atau mengundurkan diri, sehingga tidak mampu lagi melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai Ketua RT, maka tugas dan fungsi dan atau tanggung jawab sebagai Ketua RT langsung diambil alih oleh Penjabat Pengurus yang lain sesuai dengan ketentuan dan kebiasan yang berlaku dalam majemen kepengurusan organisasi secara umum
7.    Kesepakatan ini dibuat dan di sahkan melalui musyawarah dan rapat warga dan telah mendapat persetujuan dari seluruh warga. Dan kesepakatn ini bersifat mengikat. Setiap warga berkewajiban menjaga dan menjalankan kesepakatan ini dengan bersungguh-sungguh
8.  Dalam hal apabila ada warga dengan sengaja melakukan pengingkaran atas sebagian dan atau keseluruhan dari butir–butir dari kesepakatan ini, maka warga tersebut tidak lagi terikat dengan butir–butir kesepakatan ini secara keseluruhan
9.   Dan dalam hal warga yang tidak setuju dan atau tidak menyetujui kesepakatan ini di buat dan dilaksanakan yang dibuktikan dengan menolak menandatangani blanko persetujuan kesepakatan yang disediakan, maka yang bersangkutan dinyatakan tidak terikat dengan butir – butir kesepakatan ini secara keseluruhan
10. Hal – hal yang belum dimuat dalam kesepakatan ini akan dibuat dalam kesepakatan terpisah tanpa membatalkan dan atau mengurangi makna dan tujuan dari kesepakatan ini dan kesepakatan ini berlaku semenjak ditetapkan dan disetujui oleh seluruh warga  

Dibuat dan disepakati di          : Bekasi
Pada Tanggal                          : 14 April 2012


Atas nama Seluruh warga
RT 013/RW035



( M u z f i k r i )

ctt : point 4  telah direvisi dengan mengilangkan kata dan melakukan penambahan  kata sehingga menjadi :
4.    Sebelum masa tugasnya berakhir, Ketua RT yang terpilih wajib melaksanakan pemilihan ketua RT yang baru secara jujur dan adil sebagai pengganti dirinya dengan berpedoman kepada :

a.  Setiap Ketua RT yang sudah menjabat sebagai Ketua RT tidak berhak lagi untuk dipilih pada periode – periode berikutnya

b.    Setiap perangkat kepengurusan RT yang sudah menjabat sebagai Wakil Ketua RT ( kalau ada ), Sekretaris RT, Wakil Sekretaris RT ( kalau ada ), Bendahara RT, Wakil Bendahara RT ( kalau ada ) tidak berhak lagi untuk dipilih sebagai Ketua RT atau Perangkat kepengurusan Inti RT sekurang – kurangnya selama 2 ( dua )  kali periode kepengurusan

READ MORE - Aturan Pemilihan Ketua dan Perangkat Kepengurusan Rukun Tetangga ( RT )